Evander Ditembak OTK Saat Main Layangan di Medan Denai, Pelaku Masih Misterius!

190

MEDAN – Seorang pelajar SMA kelas 2, Evander Esawdi Hutauruk (16), menjadi korban penembakan oleh orang tak dikenal (OTK) saat sedang asyik bermain layang-layang di Lapangan Bola Jalan Pelikan Ujung, Kelurahan TSM 2, Kecamatan Medan Area, Rabu (30/7/2025).

Korban ditembak dengan senapan angin di bagian pinggang kanan hingga peluru menembus usus kecilnya. Akibatnya, Evander harus menjalani operasi darurat, mendapat 20 jahitan, dan dirawat intensif di RS Adam Malik Medan selama 15 hari.

Kronologi Kejadian yang Menggemparkan
Menurut pengakuan ibu korban, Pretty Sumiati br Sitompul (50), kejadian ini terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, Evander tiba-tiba pulang sambil menangis dan meminta dibawa ke rumah sakit karena ditembak.

“Saya kaget, baju anak saya tidak sobek, tapi ada lubang di pinggang kanannya. Ternyata peluru menembus hingga ke usus kecil,” ujar Pretty.

Evander dan teman-temannya mengaku tidak terlibat tawuran, melainkan hanya bermain layang-layang. Tiba-tiba, terdengar suara tembakan, dan Evander langsung merasakan sakit di pinggangnya. Pelaku kabur tanpa jejak!

Biaya Operasi Tak Ditanggung BPJS, Keluarga Terpaksa Pinjam Uang
Karena kasus ini masuk kategori kriminal, BPJS menolak menanggung biaya operasi. Keluarga pun harus berhutang untuk menutup biaya medis yang mencapai puluhan juta rupiah.

“Kami sudah laporkan ke Polsek Medan Area, tapi sampai sekarang belum ada kabar,” keluh Pretty.

Polisi Diam, Kapolsek Medan Area Ogah Beri Keterangan
Laporan resmi telah dibuat dengan No. LP/B/544/VII/2025/SPKT pada 2 Agustus 2025, namun belum ada tindak lanjut dari kepolisian.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Medan Area, Kompol Dwi Himawan Chandra, hanya meminta pertanyaan diajukan via WhatsApp dengan alasan sedang menyetir. Namun, hingga berita ini diturunkan, tidak ada tanggapan resmi dari pihak kepolisian.

Keluarga Minta Keadilan: “Tangkap Pelakunya!”
Pretty berharap polisi segera mengusut tuntas kasus ini agar pelaku dihukum seberat-beratnya. “Anak saya trauma, tidak bisa sekolah selama beberapa minggu. Kami butuh keadilan!” tegasnya. (FD)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com