TEHERAN – Iran memasuki babak baru sejarah politiknya hari ini, Senin (9/3/2026), dengan pelantikan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran.
Upacara sakral yang akan digelar di Enghelab Square, Teheran, pada pukul 15.00 waktu setempat (18.30 WIB) ini menandai pertama kalinya dalam 46 tahun terakhir terjadi suksesi kepemimpinan di negara berpengaruh tersebut.
Pengumuman Bersejarah dari Majelis Ahli
Keputusan mengejutkan namun telah lama diperhitungkan ini diumumkan secara resmi oleh Majelis Ahli, lembaga elit yang bertugas memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi.
“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga sistem sakral Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi Majelis Ahli yang dirilis Senin pagi.
Siapa Mojtaba Khamenei?
Mojtaba Khamenei bukanlah wajah asing dalam lingkaran kekuasaan Iran. Sebagai ulama tingkat menengah, ia selama ini dikenal sebagai “bayangan di balik tahta” ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade.
Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada ranah keagamaan, tetapi juga merambah ke dua sektor vital Iran keamanan dan ekonomi.
Ia memiliki hubungan mendalam dengan pasukan keamanan Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta mengendalikan jaringan bisnis besar yang berkembang pesat di bawah bayang-bayang kepemimpinan ayahnya. Kombinasi pengaruh inilah yang membuat transisi kekuasaan berlangsung mulus.
Dukungan Penuh Garda Revolusi
Sinyal dukungan total kepada Mojtaba telah disuarakan IRGC jauh sebelum pengumuman resmi. Pasca penetapannya sebagai pemimpin tertinggi, para petinggi IRGC segera melakukan sumpah setia, menunjukkan kesinambungan aliansi strategis antara kepemimpinan politik dan militer Iran.
Dukungan IRGC ini menjadi faktor krusial dalam memastikan stabilitas transisi kekuasaan.
Latar Belakang Geopolitik yang Panas
Suksesi ini terjadi dalam situasi geopolitik yang memanas. Ayatollah Ali Khamenei, ayah Mojtaba, dilaporkan tewas dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel di Iran pada 28 Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump, dalam misinya, menegaskan ambisi imperialisnya untuk mengganti rezim di Iran.
Namun, akar kepemimpinan ulama yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun membuat perubahan rezim melalui intervensi eksternal menjadi tantangan besar.
Apa Dampaknya bagi Dunia?
Pelantikan Mojtaba Khamenei membawa pertanyaan besar bagi masa depan Iran dan hubungan internasionalnya:
· Kebijakan Nuklir: Akankah ada perubahan pendekatan dalam negosiasi nuklir dengan negara-negara Barat?
· Stabilitas Regional: Bagaimana Iran akan memainkan perannya di Timur Tengah, terutama dalam konflik proksi di Suriah, Irak, dan Yaman?
· Ekonomi Domestik: Dengan latar belakang bisnisnya, apakah Mojtaba akan membuka ruang reformasi ekonomi atau justru memperkuat kontrol negara?
Para analis politik memprediksi bahwa meskipun terjadi pergantian wajah, kebijakan fundamental Iran kemungkinan besar akan berlanjut, mengingat sistem kekuasaan yang telah terstruktur rapi di bawah pengawasan para ulama dan elite militer.
Pelantikan sore ini akan menjadi momen bersejarah yang disaksikan dunia, menandai awal era baru kepemimpinan di salah satu aktor kunci geopolitik Timur Tengah. (FD)