Performative Kian Populer di Media Sosial, Ini Makna dan Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari

184

MEDAN – Istilah performative semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial. Kata ini biasanya merujuk pada tindakan seseorang yang dilakukan lebih untuk dilihat, mendapat pengakuan, atau membangun citra di depan publik dibanding karena ketulusan atau keyakinan pribadi.

Dalam kajian sosiologi dan komunikasi sosial, perilaku performatif menggambarkan tindakan yang memiliki unsur “pertunjukan” di ruang publik.

Fenomena ini berkembang pesat seiring meningkatnya penggunaan media sosial yang membuat banyak aktivitas pribadi kini dapat disaksikan banyak orang.

Perilaku performative dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari menunjukkan kepedulian sosial, gaya hidup, aktivitas keagamaan, hubungan percintaan, hingga opini tertentu yang disampaikan demi mendapatkan perhatian atau validasi publik.

Pengamat sosial menilai istilah ini mulai populer secara luas pada era media sosial modern sekitar akhir 2010-an hingga awal 2020-an. Saat itu, budaya personal branding, tren viral, dan kebutuhan membangun citra digital membuat banyak orang mulai menampilkan versi diri yang dianggap ideal di ruang publik internet.

Baca Juga: Jaket Utility/Cargo: Gaya Fungsional yang Tetap Relevan dari Masa ke Masa

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku performative sering ditemukan pada unggahan yang bertujuan membangun kesan tertentu, seperti terlihat peduli, sukses, bijak, religius, atau memiliki kehidupan sempurna. Tidak sedikit tindakan dilakukan karena dorongan sosial agar diterima dalam lingkungan tertentu.

Fenomena ini muncul karena manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima dan diakui dalam kelompok sosial. Kehadiran media sosial memperbesar dorongan tersebut karena setiap aktivitas dapat memperoleh respons langsung berupa komentar, tanda suka, hingga perhatian publik.

Di sisi positif, perilaku performative kadang mampu mendorong kampanye sosial menjadi lebih luas. Banyak isu kemanusiaan, lingkungan, hingga pendidikan mendapat perhatian publik karena banyak orang ikut membagikan dukungan di media sosial.

Namun di sisi lain, perilaku yang terlalu performatif dinilai dapat memicu hubungan sosial yang tidak autentik, tekanan mental, hingga kecenderungan hidup berdasarkan pencitraan.

Sebagian orang juga dianggap lebih fokus pada bagaimana terlihat baik dibanding benar-benar melakukan tindakan nyata.

Fenomena ini turut memengaruhi budaya komunikasi modern. Banyak interaksi sosial kini dinilai lebih dipengaruhi kebutuhan membangun citra dibanding hubungan yang tulus dan alami.

Pengamat budaya mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial dan tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan nyata dengan citra digital yang ditampilkan kepada publik. (RS)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com