Dari Sekolah Papan ke Lahan 2 Hektar: Bobby Nasution Ubah Nasib SMKN 1 Gido Nias dalam Sekejap

221

NIAS — Bayangkan belajar di ruang kelas dengan dinding papan lapuk, atap seng bocor, lantai becek setiap kali hujan deras mengguyur. Itulah kenyataan pahit yang selama bertahun-tahun harus ditelan oleh 146 siswa SMKN 1 Gido di Kabupaten Nias.

Namun, di balik keprihatinan itu, secercah harapan kini menyala. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, bergerak cepat. Di hari pertama berkantor di Kepulauan Nias, Rabu (15/7/2026), Bobby langsung meninjau dan memulai pembangunan relokasi SMKN 1 Gido ke lokasi baru yang layak.

Dulu: Sekolah di Atas Lahan Basah, Banjir dan Buaya Jadi “Guru”

Kisah SMKN 1 Gido adalah potret memprihatinkan pendidikan di daerah terpencil. Berdiri di Desa Somi, Kecamatan Gido, sekolah kejuruan dengan jurusan Agribisnis Perikanan Air Tawar ini awalnya hanya berupa bangunan swadaya masyarakat yang diresmikan menjadi SMK Negeri pada 2023.

Bangunan sekolah itu hanya satu baris memanjang dengan tiga ruang kelas, satu ruang guru, dan satu ruang kepala sekolah semuanya dari papan dan atap seng tanpa plafon. Letaknya pun tragis: berada di lahan pertanian basah yang mudah tergenang, tak jauh dari muara sungai.

“Kalau hujan itu banjir, lantainya tergenang air, atapnya bocor, jadi kami enggak jadi belajar. Ikan yang di kolam laboratorium juga hilang dibawa banjir, jadi kami harus mengulang lagi pembibitan ikan,” tutur Fani Putri Zelita Gulo, siswi SMKN 1 Gido.

Bahkan, bahaya mengintai lebih dari sekadar air. “Ada laporan pernah lihat buaya,” ungkap Bobby Nasution. Bayangkan, para siswa harus belajar dengan ancaman reptil buas yang bisa muncul kapan saja dari muara.

Siswi lain, Mervinda Gulo, menggambarkan kondisi belajar yang absurd: “Kalau panas gini sangat panas kali, jadi belajarnya nggak enak gitu,” ujarnya. Ruangan bolong membuat meja dan lantai basah saat hujan, sementara terik matahari menyengat tanpa penghalang.

Kepala SMKN 1 Gido, Julius Lahagu, hanya bisa pasrah. Dari 22 guru di sekolahnya, hanya satu yang berstatus PNS sisanya masih honorer. “Selama ini kami berada di tempat yang tidak layak,” keluhnya.

Ketika Bobby Nasution pertama kali meninjau SMKN 1 Gido pada Maret 2025, dia tak sekadar melihat dia bertindak.

“Melihat SMK Negeri 1 Gido yang secara antusias muridnya sangat baik dan tiap tahun penambahan siswanya juga sangat luar biasa, namun fasilitasnya masih sangat memprihatinkan,” kata Bobby kala itu.

Alih-alih merenovasi bangunan tua yang sudah tak layak, Bobby memutuskan langkah lebih berani: relokasi total. “Statusnya juga lahan pertanian basah, hujan dikit langsung tergenang dan dekatnya ada muara. Ada laporan pernah lihat buaya, jadi bahaya, sehingga kita pindahkan,” tegasnya.

Baca Juga : Bobby Nasution Gebrak Musrembang RKPD 2027: Enam Basis Pembangunan, Nias Jadi Prioritas Utama! Pendidikan Gratis & Beasiswa Dokter Spesialis

Yang membuat langkah ini istimewa: pemerintah provinsi tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pembebasan lahan. Warga setempat, Faonasekhi Lawolo, dengan tulus menghibahkan tanahnya seluas 2 hektare untuk pembangunan sekolah baru.

“Kami tidak ada pengadaan lahan. Pak Faonasekhi Lawolo menghibahkan tanahnya seluas 2 hektare, kami sangat berterima kasih,” ujar Bobby.

Lokasi baru ini jauh lebih strategis—dekat permukiman penduduk dan simpang jalan besar lintas Gunungsitoli-Nias Selatan. Akses pun dipermudah dengan hibah anggaran Rp5 miliar dari Pemprov Sumut untuk pembangunan jalan menuju sekolah.

Pembangunan relokasi ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama ditargetkan rampung November 2026. Nilai kontrak tahap pertama mencapai Rp4.451.212.853,13 (termasuk pajak).

Fasilitas tahap pertama yang akan dibangun di atas lahan 2 hektar meliputi:
· Ruang kelas (2 ruang)
· Ruang praktik siswa
· Ruang kepala sekolah
· Toilet, menara air, dan sumur bor
· Podium, area parkir
· Jalan lingkungan sekolah dan pagar

“Yang paling penting itu area praktiknya. Ini kan SMK perikanan, jadi dibuat juga kolam tanah. Sebelumnya di tempat lama hanya dari terpal, sangat berbeda,” jelas Bobby.

Bobby juga berpesan tegas: jangan main-main dengan material. “Karena ini area pertanian walau status lahannya bisa digunakan jadi sekolah, ini arealnya sangat ringkih. Jadi kalau bermain material ini sangat berbahaya,” tegasnya.

Warga Nias, Rosdwita Waruwu, mengaku sudah lama menantikan kehadiran negara. “Iya tahu kalau di sini nanti akan dibangunkan sekolah, karena dulu sekolahnya yang di jalan Pantai Somi tidak jauh dari sini kondisinya tidak layak, sering banjir,” ujarnya.

Ia menaruh harapan besar agar proses pembangunan bisa segera rampung. “Ya harapan kami dengan datangnya pak Gubernur agar sekolah ini dibangun, prosesnya cepat dan anak-anak di sini bisa bersekolah dengan nyaman,” ucapnya.

Leonard Susanto Laoli, siswa kelas XII, juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Senang tentunya pembangunan sekolah kami dibantu pak Bobby, semoga cepat selesai dan kami bisa pakai untuk belajar,” katanya.

Sementara Fani Putri Zelita Gulo menyambut gembira kabar ini. “Saya berharap pembangunan Gedung SMK Negeri 1 Gido segera selesai sehingga kami lebih nyaman untuk belajar,” ujarnya.

Pemberi hibah tanah, Faonasekhi Lawolo, pun merasa bangga. “Mudah-mudahan anak cucu kami nanti terus bisa merasakan sekolah ini, semakin bagus, mereka semakin pintar, bisa buat maju kampung kami, buat kampung kami bangga,” katanya.

Relokasi SMKN 1 Gido bukanlah langkah isolatif. Ini adalah bagian dari komitmen besar Bobby Nasution untuk memajukan pendidikan di Kepulauan Nias. Sejak awal 2026, Pemprov Sumut memberlakukan sekolah gratis bagi seluruh SMA dan SMK di Kepulauan Nias dengan alokasi anggaran Rp31 miliar.

Bobby juga berkantor di Nias selama tiga bulan untuk memastikan percepatan pembangunan di sektor pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan.

“Kami ingin membangun secara utuh SMK ini sehingga bisa menjadi kebanggaan,” ujarnya.

Dengan target penyelesaian November 2026, para siswa SMKN 1 Gido tak perlu menunggu lama untuk merasakan perubahan. Gedung baru yang representatif akan menggantikan bangunan papan yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan mereka menuntut ilmu di tengah keterbatasan.

Dari sekolah papan dan banjir, kini hadir gedung megah di atas tanah hibah. Dari ancaman buaya, kini hadir harapan. Ini bukan sekadar relokasi ini adalah revolusi pendidikan yang membuktikan bahwa negara hadir di tengah kesulitan rakyatnya. (Rel)