Rico Waas Tantang Garda Pemuda NasDem Medan: Jangan Cuma Kumpul, Buktikan Aksi Nyata

255

MEDAN — Wali Kota Medan Rico Waas memberi pesan tegas kepada Garda Pemuda NasDem Medan organisasi pemuda bukan tempat sekadar berkumpul.

Ia ingin setiap kegiatan berdampak langsung bagi warga. Pesan itu disampaikan saat menerima audiensi pengurus di Balai Kota, Selasa (6/10/2026).

Di hadapan pengurus, Rico Waas menilai tantangan pemuda hari ini bukan soal kehadiran, tetapi relevansi.

Menurutnya, Garda harus mampu mengubah energi organisasi menjadi gerakan sosial yang kreatif, terukur, dan menyentuh kebutuhan warga. Media sosial, kata dia, harus jadi alat amplifikasi, bukan hanya panggung eksistensi.

“Tantangannya bagaimana Garda bisa memberikan efek yang berguna dan bermanfaat secara nyata kepada masyarakat,” ujar Rico Waas.

Ia mendorong Garda Pemuda NasDem Medan turun ke lapangan: ikut gotong royong, membantu program pendekatan warga, hingga menjadi jembatan komunikasi antara Pemko Medan dan generasi muda.

Pola komunikasi organisasi pun harus beradaptasi dengan tren masa kini agar pesan positif mudah diterima.

Baca Juga : Anak Muda Garda Terdepan! Bima Arya & Rico Waas Beberkan Strategi Jitu Bangun Kota Tangguh di YCC APEKSI 2026

Menanggapi arahan itu, Ketua Garda Pemuda NasDem Medan Bastian Siringo-ringo menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam agenda sosial Pemko Medan, termasuk program Sapa Warga. Menurutnya, audiensi ini menjadi titik awal kolaborasi, bukan sekadar foto bersama.

Audiensi turut dihadiri Kepala Badan Kesbangpol Kota Medan Andy Mario Siregar dan Kadispora Kota Medan Tengku Chairuniza. Kehadiran lintas instansi menegaskan bahwa aksi pemuda perlu bersinergi dengan kebijakan kota.

Mengapa ini penting? Karena pemuda adalah kelompok yang paling cepat membaca tren, tetapi juga paling rentan kehilangan ruang partisipasi.

Jika Garda mampu memadukan aksi lapangan dan strategi digital, dampaknya bisa lebih luas: warga terbantu, organisasi hidup, dan Medan punya contoh baru gerakan pemuda yang tidak seremonial.

Yang menarik, arahan ini menyiratkan pergeseran gaya berorganisasi: dari mobilisasi massa ke kolaborasi solutif. Di era algoritma, gerakan sosial bisa viral jika dikemas autentik dan berdampak. Garda punya peluang itu.

Bagi Rico Waas, ukuran keberhasilan bukan banyaknya kegiatan, melainkan seberapa nyata manfaat yang dirasakan. Maka tantangan ke depan jelas: Garda Pemuda NasDem Medan dituntut membuktikan diri lewat karya, bukan sekadar wacana. (FD/Rel)