Bukan Kaleng-Kaleng, Sumut Bangun “Benteng” Bawang Putih di 9.624 Hektare

215

MEDAN – Ketergantungan Indonesia pada bawang putih impor mungkin akan segera berakhir. Di balik hiruk-pikuk kota Medan, sebuah gerakan senyap namun masif tengah dirancang.

Pemprov Sumatera Utara (Sumut) tidak main-main: mereka mengunci target ambisius mengembangkan 9.624 hektare lahan bawang putih di sembilan kabupaten. Ini bukan proyek biasa, melainkan strategi besar menuju kemandirian pangan nasional.

Episentrumnya? Kabupaten Samosir. Dengan 5.001 hektare, Samosir didapuk sebagai “Raja” baru bawang putih Sumut, jauh melampaui Karo (2.995 ha) dan Humbanghasundutan (411 ha).

Sisanya tersebar di Simalungun, Dairi, Toba, Tapanuli Utara, Deliserdang, dan Mandailing Natal. Totalnya, hampir 10.000 hektare potensi agroklimat yang selama ini tidur.

Wagub Sumut, Surya, dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Pertanian, Rabu (7/10/2026), menegaskan bahwa ini bukan proyek seremonial.

Fokus utamanya tajam benih bermutu, kepastian offtaker, dan penguatan kapasitas petani. Targetnya pun spesifik: produktivitas 20 ton per hektare panen basah.

Baca Juga : Pemkab Deli Serdang Siapkan Intervensi Pasar, Beli Cabai dan Bawang Petani

“Produktivitas harus kita dorong. Jangan sampai petani menanam, tapi harga jatuh. Kepastian pasar adalah harga mati,” tegas Surya.

Yang menarik, langkah Sumut ini sejalan dengan visi besar Dirjen Hortikultura Kementan, Muhammad Taufiq Ratule. Ia menyebut Sumut sebagai kawasan strategis nasional untuk swasembada bawang putih. Artinya, jika Sumut berhasil, maka peta ketahanan pangan Indonesia berubah total.

Selama ini, bawang putih adalah “titik lemah” hortikultura Indonesia. Hampir 90% kebutuhan nasional dipasok impor.

Dengan menggarap 9.624 hektare, Sumut tidak hanya menambah pasokan, tetapi juga menciptakan ekosistem: benih, penangkar, kelompok tani, hingga pasar.

Media lain mungkin hanya melaporkan angka dan lokasi. Tapi esensi sebenarnya adalah pergeseran paradigma: dari Jawa-sentris ke Sumut-sentris.

Samosir, yang dikenal dengan Danau Toba, kini berpotensi menjadi lumbung bawang putih. Ini adalah diversifikasi ekonomi lokal yang berdampak global.

Tantangan di Depan Mata
Ada tiga kunci sukses: (1) Ketersediaan benih true seed (biji) yang masih terbatas, (2) Pendampingan teknologi budidaya, dan (3) Jaminan harga beli. Jika ketiganya beres, bukan tidak mungkin Sumut menjadi provinsi pertama yang mendekati swasembada bawang putih.

Langkah Pemprov Sumut patut diapresiasi. Namun, bola kini berada di tangan kabupaten dan Kementan. Koordinasi yang kuat akan menentukan apakah 9.624 hektare ini menjadi kisah sukses atau sekadar angka di atas kertas.

Jika berhasil, bukan hanya Sumut yang bangga, tetapi Indonesia bisa tersenyum. Petani sejahtera, impor berkurang, rupiah pun terjaga.

Mari kita awasi bersama. Karena bawang putih bukan sekadar bumbu dapur, melainkan simbol kedaulatan pangan bangsa. (FD)