Bukan Cuma Digitalisasi: Ilmu Jakarta Smart City yang Dibawa PKA Sumut ke Sumatera Utara

300

JAKARTA – Bukan sekadar kunjungan dinas. Peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Kelompok IV Tahun 2026 Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyelami DNA transformasi digital Jakarta.

Bertajuk tata kelola pemerintahan berbasis data, teknologi, dan kolaborasi, studi lapangan digelar di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta, Kamis (8/10/2026). Kegiatan hasil kolaborasi LAN RI dan BPSDM Sumut ini bagian dari rangkaian PKA 2026.

Sebelumnya, PKA dibuka resmi di Balai Kota DKI Jakarta oleh Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dari balai kota, peserta melihat praktik nyata Jakarta Smart City branding utama DKI dalam mengintegrasikan data, teknologi, dan pelayanan publik.

Peserta tidak hanya belajar aplikasi atau dashboard. Mereka mendalami bahwa transformasi digital adalah perubahan tata kelola: kepemimpinan, SDM, inovasi, data, keamanan informasi, kinerja, dan kolaborasi lintas sektor.

Data berkualitas dan terintegrasi disebut fondasi pengambilan keputusan. Namun, data wajib dijaga keamanannya agar kepercayaan publik tidak runtuh.

Baca Juga : Jadi Pelopor Smart City, Ini Kunci Sukses Rico Waas Memimpin Medan Lewat Lompatan Digital

“Saya belajar banyak dari insight Jakarta Smart City yang menjadi salah satu branding utama DKI Jakarta dalam mengintegrasikan data, teknologi, dan pelayanan publik. Di sini kita melihat digitalisasi dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan efektivitas pelayanan sekaligus memperkuat keterhubungan antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan,” ujar Reza Prima Kurniawan, peserta PKA.

Apa pelajaran terbesarnya? Teknologi canggih tak cukup. Ia harus terukur, aman, responsif, dan berkelanjutan. Bagi Sumut, ini relevan.

Daerah dengan bentang geografis luas dan kebutuhan layanan beragam butuh data yang tidak silo. Jakarta memberi contoh bagaimana integrasi layanan dan kolaborasi lintas sektor bisa mempercepat respons.

Peserta diminta tidak sekadar copy-paste, tetapi kontekstualisasi apa masalah prioritas, data apa yang tersedia, dan siapa aktor yang harus duduk bersama.

Studi lapangan ini mendorong peserta mengadaptasi praktik Jakarta sesuai karakter Sumut, lalu menerjemahkannya menjadi aksi perubahan di unit kerja. Jika berhasil, PKA bukan sekadar pelatihan, melainkan katalis pelayanan publik Sumut yang lebih adaptif, aman, dan dipercaya. (Rel)