MEDAN – Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah rumah tangga ternyata memiliki nilai ekonomi besar dan berpotensi menjadi ladang bisnis menjanjikan.
Selain bisa diolah menjadi bahan baku biodiesel, minyak bekas pakai tersebut juga memiliki pasar ekspor yang terus tumbuh. Namun ironisnya, bisnis pengolahan minyak jelantah hingga kini masih minim peminat.
Pengamat ekonomi Kota Medan, Tria Budi, mengatakan banyak masyarakat belum menyadari besarnya peluang usaha dari pengolahan minyak jelantah.
“Padahal minyak jelantah ini nilainya besar. Bisa diolah jadi biodiesel, bahan industri, bahkan diekspor. Tapi banyak yang masih menganggapnya limbah biasa,” ujar Tria Budi, Minggu (17/5/2026).
Minyak jelantah sendiri merupakan minyak goreng bekas yang telah digunakan berulang kali untuk memasak atau menggoreng makanan.
Jika dibuang sembarangan, minyak tersebut dapat mencemari lingkungan dan saluran air. Namun di sisi lain, minyak jelantah memiliki nilai ekonomis karena dapat diolah kembali menjadi bahan bakar alternatif hingga produk industri.
Menurut Tria, salah satu alasan bisnis ini masih sepi peminat karena banyak orang menganggap usaha pengolahan limbah identik dengan proses rumit dan kotor.
Selain itu, sebagian masyarakat juga belum memahami rantai bisnis minyak jelantah yang kini mulai berkembang di pasar nasional maupun internasional.
“Masih banyak yang gengsi atau belum paham pasarnya. Padahal kebutuhan bahan biodiesel terus meningkat dan minyak jelantah menjadi salah satu bahan bakunya,” katanya.
Baca Juga: Read the Room: Kunci Sukses Berbisnis dan Bergaul di Era Modern
Ia menjelaskan bisnis minyak jelantah sebenarnya bisa dimulai dari skala kecil tanpa membutuhkan modal besar.
Pelaku usaha pemula dapat memulai dengan mengumpulkan minyak bekas dari rumah tangga, pedagang gorengan, restoran, hingga usaha kuliner kecil untuk kemudian dijual ke perusahaan pengolahan.
Menurutnya, model bisnis seperti ini relatif mudah dijalankan karena tidak membutuhkan mesin mahal pada tahap awal.
“Yang penting konsisten membangun jaringan pengumpulan. Bahkan ada yang memulai hanya dengan modal jeriken dan kendaraan sederhana,” ujar Tria.
Ia menilai bisnis tersebut memiliki potensi keuntungan besar karena harga minyak jelantah terus mengalami peningkatan seiring tingginya permintaan industri biodiesel.
Selain menghasilkan keuntungan, bisnis pengolahan minyak jelantah juga disebut membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan mendukung energi ramah lingkungan.
Tria berharap semakin banyak anak muda maupun pelaku UMKM mulai melirik bisnis pengolahan limbah bernilai ekonomi tinggi tersebut.
“Ini peluang usaha masa depan. Selain menghasilkan uang, juga membantu lingkungan. Sayangnya masih banyak yang belum sadar kalau limbah dapur ini sebenarnya aset,” katanya. (RS)