INALUM Ukir Sejarah di Usia Emas: Produksi dan Laba Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang 50 Tahun

MEDAN — Di tengah gempuran dinamika industri global, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) justru mencatatkan babak baru keemasan.

Perusahaan pelat merah yang genap berusia setengah abad pada 2026 ini berhasil membukukan kinerja keuangan dan operasional terbaik sepanjang sejarah, sekaligus meneguhkan posisinya sebagai tulang punggung hilirisasi industri aluminium nasional.

Capaian monumental tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di Gedung Energi, SCBD Jakarta, Senin (22/6/2026).

Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui Laporan Tahunan serta Laporan Keuangan Konsolidasian yang telah memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Kantor Akuntan Publik Purwanto, Susanti dan Surja — anggota firma Ernst & Young Global Limited.

Sepanjang Tahun Buku 2025, INALUM mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Laba bersih konsolidasian melonjak 15 persen secara tahunan (year-on-year) , sementara EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) tumbuh 17 persen.

Di sektor operasional, torehan INALUM bahkan lebih mencengangkan. Perusahaan berhasil memproduksi aluminium sebesar 280.082 metrik ton naik sekitar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini sekaligus memecahkan rekor tertinggi (all time high) sepanjang 50 tahun perjalanan perusahaan.

Tak hanya produksi, volume penjualan juga mencatat rekor baru sebesar 280.141 metrik ton, meningkat sekitar 1 persen secara tahunan.

Dua capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti nyata bahwa strategi transformasi dan penguatan daya saing yang dijalankan INALUM telah membuahkan hasil.

Apa rahasia di balik kesuksesan ini? Jawabannya terletak pada penyelesaian Proyek Pot Upgrading sebuah proyek strategis yang menjadi lokomotif peningkatan kapasitas produksi.

Melalui proyek ini, INALUM berhasil meningkatkan kapasitas produksi terpasang menjadi sekitar 274.000 ton per tahun.

Baca Juga : Indonesia Wujudkan Kedaulatan Aluminium! INALUM Bangun Mega Proyek Hilirisasi Terintegrasi di Mempawah

Peningkatan kapasitas dicapai melalui modernisasi teknologi tungku reduksi ke arus 235 kA pada 170 tungku di Potline 2. Langkah ini tidak hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga efisiensi energi dan operasional secara keseluruhan.

Corporate Secretary INALUM, Mahyaruddin A.R., menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari konsistensi transformasi operasional, peningkatan efisiensi, serta kolaborasi seluruh insan perusahaan bersama Grup MIND ID.

Kinerja cemerlang INALUM tidak hanya tercermin dari angka produksi dan keuangan. Dari sisi tata kelola, perusahaan mempertahankan Tingkat Kesehatan kategori “AA” dengan klasifikasi “Sehat” .

Pencapaian ini diperkuat dengan perolehan Final Rating idAA-/Stable serta Standalone Rating idA+(sa) dari PEFINDO lembaga pemeringkat efek terkemuka di Indonesia. Rating ini mencerminkan kemungkinan kuat adanya dukungan dari induk perusahaan MIND ID, posisi pasar yang kuat, serta profil keuangan yang solid.

Penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) juga terus menunjukkan peningkatan signifikan. Tingkat adopsi prinsip ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) diproyeksikan mencapai 87,54 persen pada 2025, melonjak dari 81,01 persen pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, pencapaian Key Performance Indicators (KPI) Kolegial Tahun 2025 mencapai 85,54 persen dengan peringkat komposit risiko berada pada level 2 — mencerminkan pengelolaan risiko yang terkendali.

Perjalanan INALUM tidak terlepas dari peran strategis MIND ID holding industri pertambangan Indonesia yang mengintegrasikan enam BUMN tambang besar: PT ANTAM Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT INALUM, PT Timah Tbk, dan PT Vale Indonesia Tbk.

Sebagai bagian dari ekosistem MIND ID, INALUM mendapatkan dukungan penuh dalam penguatan rantai pasok, hilirisasi, dan pengembangan kapasitas. Melalui sinergi dengan ANTAM, misalnya, INALUM terlibat dalam proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat — yang menjadi integrator rantai pasok industri aluminium dari hulu hingga hilir.

Di balik gemerlap capaian bisnis, INALUM juga menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan sosial dan lingkungan melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) .

Sepanjang 2025, perusahaan menyalurkan beasiswa kepada 145 penerima, melatih 110 guru, serta menanam 15.000 pohon mangrove sebagai bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem pesisir. INALUM juga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di tiga lokasi dan menyalurkan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

Langkah-langkah ini sejalan dengan komitmen MIND ID dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 pemerintah Indonesia.

Dalam RUPST tersebut, pemegang saham juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi. Melati Sarnita resmi ditetapkan sebagai Direktur Utama INALUM, menggantikan kepemimpinan sebelumnya.

Susunan Dewan Komisaris terdiri atas Musa Bangun sebagai Komisaris Utama dan Komisaris Independen, bersama Indra Simarta, Ali Said, Kardwiyana Ukar sebagai Komisaris, serta Hari Soebagijo sebagai Komisaris Independen.

Jajaran Direksi diperkuat oleh Ken Permana sebagai Direktur Keuangan, Ivan Ermisyam sebagai Direktur Operasi, dan Arif Haendra sebagai Direktur Pengembangan Usaha.

Dengan formasi kepemimpinan baru, INALUM optimistis dapat melanjutkan tren pertumbuhan, memperkuat hilirisasi aluminium nasional, serta meningkatkan kontribusi bagi perekonomian Indonesia.

Melati Sarnita sebelumnya telah mengungkapkan visi besar perusahaan, termasuk pembangunan smelter aluminium kedua di Mempawah dengan kapasitas produksi 600.000 ton per tahun yang akan meningkatkan total kapasitas INALUM menjadi 900.000 ton per tahun.

Keberhasilan INALUM di usia emasnya bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru industri aluminium Indonesia. Dengan dukungan penuh MIND ID dan visi hilirisasi yang menjadi pilar utama penguatan industri nasional, INALUM diproyeksikan menjadi motor utama dalam mewujudkan kemandirian aluminium nasional.

Proyeksi kebutuhan aluminium nasional yang diperkirakan melonjak hingga 600 persen dalam tiga dekade mendatang menjadikan langkah ekspansi dan hilirisasi INALUM sebagai keniscayaan. (FD)

#50TahunINALUM#AluminiumIndonesia#EkonomiHijau#Hilirisasi#Inalum#IndustriNasional#kitamedandotcom#MindId#RekorProduksi#TransformasiBUMNbumn