Pasangan Mulai Menjauh? Bisa Jadi Ini yang Sedang Terjadi

MEDAN — Perubahan sikap pasangan hidup sering kali menjadi tanda yang membuat hubungan terasa berbeda. Pasangan yang sebelumnya komunikatif tiba-tiba lebih pendiam, perhatian berkurang, mudah tersinggung, atau mulai menjaga jarak.

Dalam hubungan, perubahan perilaku seperti itu dapat disebut sebagai emotional withdrawal atau penarikan diri secara emosional. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang mulai mengurangi keterlibatan emosional dalam hubungan, baik melalui komunikasi, perhatian maupun kedekatan.

Namun, perubahan sikap pasangan tidak otomatis berarti hilangnya rasa cinta atau adanya orang ketiga. Perubahan tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kelelahan, konflik yang belum selesai, persoalan finansial, hingga kondisi emosional seseorang.

Gejala perubahan sikap biasanya terlihat dari pola komunikasi yang berubah. Pasangan yang sebelumnya rutin berbagi cerita mulai jarang berbicara, respons pesan menjadi singkat, interaksi terasa hambar, atau lebih sering memilih menghabiskan waktu sendiri.

Baca Juga; Saat Cemas Tak Lagi Wajar, Anxiety Mulai Menguasai Hidup

 

Perubahan juga dapat terlihat dari berkurangnya perhatian terhadap pasangan. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan bersama mulai ditinggalkan, percakapan tentang masa depan semakin jarang, dan persoalan kecil lebih mudah memicu pertengkaran.

 

Pada sebagian pasangan, perubahan tersebut muncul secara perlahan sehingga sulit dikenali. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan satu kejadian, melainkan pola perilaku yang berlangsung dan perubahan yang terjadi dibandingkan kebiasaan sebelumnya.

 

Penyebabnya pun tidak selalu berasal dari hubungan. Beban pekerjaan, kurang tidur, tekanan ekonomi, persoalan keluarga atau lingkungan sosial dapat membuat seseorang lebih mudah lelah secara fisik maupun emosional.

 

Konflik hubungan yang terus dipendam juga dapat menjadi pemicu. Masalah yang tidak dibicarakan secara terbuka berpotensi membuat salah satu pihak memilih diam, menghindar, atau mengurangi komunikasi sebagai bentuk respons terhadap tekanan dalam hubungan.

 

Perubahan sikap pasangan dapat berdampak pada kedua belah pihak. Pasangan yang merasakan perubahan bisa menjadi cemas, terus bertanya-tanya, kehilangan rasa aman, bahkan melakukan overthinking. Sementara pasangan yang menarik diri dapat semakin tertekan apabila menghadapi tuntutan komunikasi tanpa ruang untuk menjelaskan kondisinya.

Lantas, bagaimana menghadapinya?

Langkah pertama adalah tidak langsung mengambil kesimpulan. Perubahan sikap perlu dibicarakan secara tenang dengan menggunakan komunikasi terbuka. Hindari memulai percakapan dengan tuduhan karena dapat membuat pasangan semakin defensif.

 

Pertanyaan sederhana mengenai kondisi pasangan dapat menjadi awal pembicaraan. Berikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang sedang dihadapi tanpa langsung memotong atau menghakimi.

 

Jika persoalannya berasal dari konflik hubungan, kedua pihak dapat membicarakan masalah secara spesifik, termasuk kebutuhan, batasan dan harapan masing-masing. Penyelesaian juga tidak harus dilakukan dalam satu percakapan.

 

Apabila perubahan perilaku berlangsung lama, semakin berat, atau disertai tekanan emosional yang mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional seperti konselor pasangan atau tenaga kesehatan mental dapat dipertimbangkan.

 

Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah mengalami perubahan sikap atau konflik. Yang menjadi persoalan adalah ketika perubahan tersebut dibiarkan tanpa komunikasi hingga jarak emosional semakin melebar.

Ketika sikap pasangan berubah, yang paling dibutuhkan bukan buru-buru mencari siapa yang salah, melainkan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. (RS)

#emotional withdrawal#KitaMedan#kitamedandotcom