MEDAN – Malam Jumat (14/8/2026) menjadi momen haru sekaligus mencekam. Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, terlihat berlenggang keluar dari ruang perawatan intensif Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Di balik pintu itu, seorang siswi kelas XI SMKN 1 Berastagi terbaring lemah, berjuang melawan rasa nyeri yang terus menyerang setiap 30 menit sekali.
Apa yang seharusnya menjadi program andalan untuk generasi emas justru berubah menjadi mimpi buruk. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang Presiden Prabowo Subianto menuai kontroversi pahit setelah menu gulai ikan dencis yang disantap siang hari menyebabkan 353 siswa dari 5 sekolah di Kabupaten Karo mengalami keracunan massal.
Gejala muncul bagai reaksi berantai mulut gatal, kulit merah, mual, muntah, hingga sesak napas.
Seorang siswi bahkan harus dijemput ajal (nyaris) saat penurunan kesadaran memaksanya dirujuk dari RS Efarina Berastagi ke ruang PICU RS Haji Medan.
“Kondisinya lebih parah dari yang lain. Sempat alami penurunan kesadaran,” ungkap Bobby dengan nada prihatin.
Dengan ditemani sang ibu yang datang tanpa persiapan bahkan tanpa baju ganti Bobby menyampaikan permohonan maaf yang tulus.
“Kami dari Pemerintah Provinsi Sumut minta jangan salahkan siapa pun. Kami pastikan rawat siswa sampai pulih total,” ujarnya.
Janji itu diperkuat dengan komitmen menanggung biaya perawatan penuh dan meminta tim medis memantau kondisi pasien setiap menit.
Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Berastagi Sempajaya—dapur di bawah Yayasan Manunggal Kartika Jaya yang mengoperasikan MBG untuk 5 sekolah resmi disuspensi.
“SPPG-nya sudah kita suspend,” tegas Erdianta Sitepu, Kasubag Tata Usaha KPPG Medan.
Kepala BGN Sumut, T Agung Kurniawan, mengonfirmasi penutupan sementara selama 30 hari dengan sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi jika ingin kembali beroperasi. Langkah tegas lainnya: Kepala SPPG dicopot dari jabatannya.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV, Zulkarnain Barus, mengungkap menu yang menjadi biang keladi: sayur kol, wortel, dan gulai ikan dencis.
“Diperkirakan dari ikan dencis itu. Begitu dimakan, langsung gatal-gatal mulutnya,” jelasnya.
Namun, Direktur Utama RSU Haji Medan, dr Yulinda Elvi Nasution, masih bersikap hati-hati. “Kami belum bisa menyimpulkan apa penyebabnya. Semua masih menunggu hasil laboratorium,” pungkasnya.
Insiden ini bukan sekadar kasus keracunan biasa. Ini adalah peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Program MBG yang seharusnya menjadi solusi gizi justru menjadi ancaman. Pertanyaannya: Apakah ini kelalaian prosedur, kesalahan teknis dapur, atau ada celah sistemik yang lebih dalam?
Satu hal pasti Bobby menegaskan kasus ini harus menjadi evaluasi menyeluruh. “Pengawasannya harus diperkuat agar tidak terjadi lagi,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, 353 siswa masih dalam pemulihan. Satu siswi masih terbaring lemah di ruang intensif. Kita semua berdoa untuk kesembuhannya. Tapi yang lebih penting: akankah ini menjadi pelajaran terakhir, atau akan ada korban berikutnya? (FD)