MEDAN — Senyum lega terpancar dari ratusan warga Kelurahan Sukadamai, Kecamatan Medan Polonia, Selasa (28/7/2026).
Setelah berbulan-bulan mempertaruhkan nyawa menyeberang melalui pipa PDAM, kini mereka akhirnya memiliki akses aman berkat Jembatan Perintis Garuda yang diresmikan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas.
Jembatan sepanjang 35 meter dan lebar 1,5 meter ini kembali menyambungkan tiga kecamatan Medan Polonia, Johor, dan Maimun yang aksesnya terputus sejak jembatan lama runtuh diterjang banjir pada 2024.
Uniknya, jembatan lama itu ternyata bekas jalur rel kereta api peninggalan yang telah digunakan warga selama puluhan tahun.
Cerita berawal dari video viral pada April 2026 yang memperlihatkan puluhan pelajar nekat menyeberangi Sungai Deli melalui pipa PDAM dengan ketinggian lebih dari 10 meter.
Permukaan pipa yang melengkung dan licin membuat tiap langkah mereka bagaikan taruhan nyawa.
Wali Kota Rico Waas mengaku sangat prihatin dan miris melihat kondisi tersebut. “Tentunya itu menjadi pesan bagi kita agar pemerintah harus respons secara cepat apa solusi terbaik,” ujarnya.
Respons cepat pun datang. Peninjauan lapangan dilakukan sejak April 2026 untuk mempelajari kondisi konstruksi dan status lahan. Kolaborasi antara Kodam I/Bukit Barisan, Pemko Medan, dan masyarakat pun dijalankan. Hasilnya? Pembangunan rampung hanya dalam waktu sekitar lima pekan.
Pangdam Hendy Antariksa menegaskan, “Ini adalah sinergi antara TNI AD, pemerintah daerah, dan partisipasi masyarakat. Kami membantu masyarakat keluar dari kesulitan, terutama untuk mendapatkan akses transportasi yang layak”.
Jembatan Perintis Garuda ini merupakan bagian dari program percepatan pembangunan 6.000 jembatan yang dijalankan pemerintah pusat.
Kodam I/Bukit Barisan sendiri telah membangun 323 jembatan di berbagai wilayah Sumatera Utara, terdiri atas jembatan Bailey, Aramco, dan Perintis.
Pangdam juga membuka peluang bagi warga yang masih membutuhkan akses jembatan.
“Kalau ada akses warga yang terputus akibat bencana maupun kondisi mendesak, usulan bisa disampaikan melalui pemerintah daerah dan jajaran TNI di daerah agar segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Peresmian yang turut dihadiri Sultan Deli, Tuanku Mahmud Arya Lamanjiji, serta pimpinan perangkat daerah ini disambut antusias. Anak-anak sekolah hingga ibu-ibu berebut berswafoto bersama Pangdam dan Wali Kota.
“Terima kasih Pak Rico dan Pak Pangdam yang sudah membangun Jembatan Garuda. Kami janji akan menjaga jembatan ini,” ujar Leli, salah satu warga.
Namun di balik euforia, muncul kekhawatiran. Kusma, warga setempat, meminta pemasangan CCTV lantaran kawasan ini rawan pencurian besi yang di Medan dikenal dengan istilah “rayap besi”. Bahkan, temuan lapak dan bekas alat hisap di bawah jembatan menambah kecemasan warga.
Pangdam pun berharap jembatan ini awet sepanjang masa dan meminta warga segera melapor jika ada kerusakan struktur.
Jembatan Perintis Garuda bukan sekadar konstruksi baja ia adalah simbol bahwa kolaborasi cepat antara TNI, pemerintah, dan masyarakat mampu mengubah keprihatinan menjadi solusi nyata, dan mengakhiri masa-masa di mana anak-anak harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk sampai ke sekolah. (Red)