MEDAN — Dunia pendidikan Sumatera Utara diguncang skandal keterlibatan pelajar dalam aksi geng motor bersenjata tajam.
Dinas Pendidikan (Disdik) Sumut mengambil langkah kontroversial dengan mengembalikan tujuh siswa SMA dan SMK yang terbukti terafiliasi geng motor kepada orang tua masing-masing.
Kepala Disdik Sumut, Alexander Sinulingga, mengungkapkan fakta mengejutkan di Gedung DPRD Sumut, Jumat (14/8/2026).
Sedikitnya empat sekolah favorit di Medan terseret pusaran kriminalitas pelajar ini: SMK Negeri 5, SMK Negeri 7, SMA Negeri 3, dan SMA Negeri 7.
Berdasarkan data Disdik Sumut, tujuh siswa yang diamankan Aparat Penegak Hukum (APH) terdiri dari:
· 1 siswa dari SMK Negeri 5 Medan
· 3 siswa dari SMA Negeri 3 Medan
· 3 siswa dari SMA Negeri 7 Medan
Baca Juga : Panglima Geng Motor GPS yang Jual Sabu di Sarang Rel KA Tembung Dibekuk!
Total sembilan pelaku yang ditangkap Polrestabes Medan semuanya masih di bawah umur, dengan usia 15-17 tahun. Mereka adalah FCP (17), ZRP (15), MRAS (16), MASN (16), MRU (16), BAM (17), MHR (15), serta sepasang anak kembar RIMN (16) dan RINN (16).
Kelompok yang terungkap adalah Geng Motor Born To Be OK (Bornox). Aksi mereka viral di media sosial konvoi sambil membawa celurit dan melakukan atraksi berbahaya di Flyover Brayan, Medan.
Pemicunya? Hanya karena kalah pertandingan futsal! Kesal usai tim mereka kalah di GOR Dispora Pancing, para pelajar ini mengambil senjata tajam yang sudah disiapkan, lalu konvoi mencari musuh dan membegal lawan hingga korban kabur meninggalkan motornya.
Mereka memiliki basecamp di Jalan Karya Celincing, Medan Barat, serta akun Instagram @Atuk420.gank yang dikelola ketua geng berinisial EAS—yang kini masih diburu polisi.
Geng Bornox juga beraliansi dengan geng Opung Brotherhood dan Wak Ling (WL), serta memiliki musuh bebuyutan: Geng Pembangkang 27 MDN dari Belawan.
Alexander Sinulingga menegaskan pihaknya telah menerbitkan surat edaran yang melarang siswa terlibat organisasi berpotensi kriminal.
“Langkah tegas sudah dilakukan melalui sekolah. Untuk siswa yang terlibat, sudah kita kembalikan kepada orang tua masing-masing,” ujar Alexander.
Disdik Sumut telah memetakan sekolah-sekolah rawan dan akan memperketat pengawasan. “Apabila memang terbukti terlibat, tentu akan kita berikan sanksi tegas dengan dikembalikan kepada keluarga,” tegasnya.
Sebelumnya, Pemprov Sumut di bawah Gubernur Bobby Nasution menerapkan sistem sekolah lima hari mulai tahun ajaran 2025/2026 untuk menekan tawuran dan geng motor.
Kebijakan ini diharapkan mengurangi waktu luang pelajar yang kerap dimanfaatkan untuk aktivitas negatif.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi orang tua dan sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak di tengah maraknya geng motor pelajar di Sumut.
Disdik Sumut berkomitmen terus berkoordinasi dengan pihak sekolah, orang tua, dan aparat penegak hukum guna menjaga lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif. (FD)