MEDAN – Fenomena job hugging mulai menjadi sorotan dalam dunia kerja karena dinilai berdampak negatif terhadap kinerja tim dan produktivitas organisasi.
Job hugging merupakan perilaku individu yang terlalu mempertahankan pekerjaan atau tanggung jawabnya sendiri dan enggan berbagi tugas dengan rekan kerja.
Kondisi ini membuat proses kerja tidak berjalan optimal karena minim kolaborasi.
Dalam praktiknya, pelaku job hugging cenderung sulit mendelegasikan tugas, ingin mengontrol seluruh proses kerja, serta kurang percaya pada kemampuan anggota tim lainnya.
Mereka juga kerap menahan informasi penting dan enggan melibatkan rekan kerja dalam pengambilan keputusan.
Situasi ini berpotensi memperlambat pekerjaan. Bahkan dalam sejumlah kasus, proyek menjadi tersendat karena seluruh keputusan terpusat pada satu orang.
“Proyek ini lambat karena semua keputusan ditahan satu orang,” menjadi gambaran umum dampak job hugging di lingkungan kerja.
Dari sisi dampak, perilaku ini dinilai menghambat kerja tim, menurunkan efisiensi, serta memicu konflik internal.
Selain itu, perkembangan individu maupun organisasi juga terhambat karena tidak adanya distribusi peran yang seimbang.
Namun di sisi lain, job hugging juga memiliki sisi positif terbatas. Individu dengan kecenderungan ini biasanya memiliki rasa tanggung jawab tinggi dan keinginan kuat untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai standar.
Sayangnya, tanpa kemampuan kolaborasi, kelebihan tersebut justru berubah menjadi hambatan.
Para praktisi manajemen menilai, solusi untuk mengatasi job hugging adalah dengan membangun budaya kerja kolaboratif, meningkatkan kepercayaan antaranggota tim, serta memperkuat sistem delegasi tugas yang jelas.
Dengan demikian, setiap individu dapat berkontribusi secara maksimal tanpa menghambat kinerja tim secara keseluruhan. (RS)