WASHINGTON – Di tengah eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, suara penolakan justru muncul dari barak-barak militer AS.
Para prajurit Amerika dilaporkan beramai-ramai mencari cara untuk menghindari penugasan perang melawan Iran.
Bukan tanpa alasan kuat, selain beban moral, sebuah laporan intelijen rahasia menyebut serangan militer skala besar pun takkan mampu menggulingkan Republik Islam Iran.
Mike Prysner, direktur eksekutif Center on Conscience & War—lembaga advokasi yang mendukung prajurit penolak perang mengungkapkan bahwa layanan hotline mereka terus berdering dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami menerima banyak panggilan dari prajurit aktif yang menolak ditugaskan berperang melawan Iran,” tulis Prysner di platform X, Sabtu (7/3/2026).
Lembaga yang bermarkas di Washington ini memberikan pendampingan hukum dan panduan bagi prajurit yang meyakini perang AS-Israel terhadap Iran adalah kebijakan keliru.
Menurut Prysner, jumlah tentara yang bakal dikerahkan ke Timur Tengah jauh lebih besar dari angka resmi yang dipublikasikan Pentagon. Hal ini memicu kecemasan di kalangan prajurit.
“Dengan pengumuman korban pertama warga Amerika dalam perang yang tak bermoral ini, banyak prajurit mulai mempertanyakan peran mereka. Tugas kami adalah menjangkau mereka, membela hak mereka, dan membantu memulangkan mereka dengan selamat,” tegas Prysner.
Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan AS-Israel ke wilayah Iran. Pemerintahan Donald Trump bahkan mengisyaratkan potensi perang berkepanjangan dengan menyatakan “perang baru saja dimulai”. Namun, di balik narasi ofensif itu, kalangan intelijen justru diliputi skeptisisme.
Sebuah dokumen rahasia Dewan Intelijen Nasional (NIC) AS yang bocor ke Washington Post mengungkap asesmen mengejutkan.
Laporan yang disusun sepekan sebelum serangan pertama dilancarkan itu menguji dua skenario serangan terbatas pada pemimpin senior Iran, dan serangan luas yang menyasar institusi pemerintahan serta kepemimpinan politik. Hasilnya samakeduanya diprediksi gagal menggulingkan Republik Islam Iran.
Para analis intelijen menilai struktur ulama dan militer Iran sangat kokoh. Bahkan jika Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei terbunuh, mekanisme konstitusional Iran akan segera mengaktifkan suksesi kepemimpinan.
“Oposisi yang terfragmentasi di Iran tidak memiliki kapasitas mengambil alih kekuasaan dalam situasi saat ini,” demikian bunyi laporan yang dilansir Al Mayadeen, Sabtu (7/3/2026).
Sumber yang mengetahui dokumen itu mengatakan komunitas intelijen AS meragukan target Trump untuk “membersihkan” kepemimpinan Iran dan menggantinya dengan rezim pro-AS.
NIC, yang beranggotakan analis senior dari 18 badan intelijen, merefleksikan pandangan kolektif bahwa perlawanan Iran tidak mudah ditaklukkan. Bahkan dalam tekanan militer ekstrem sekalipun.
Dengan dua realitas ini gelombang penolakan dari prajurit dan keraguan intelijen semakin menguatkan sinyal bahwa perang melawan Iran tidak hanya kontroversial secara moral, tetapi juga berisiko tinggi secara strategis.
Jika tren penolakan terus meluas, Pentagon bisa menghadapi krisis personel di tengah operasi militer yang masih berlangsung. Sejarah mencatat, perlawanan prajurit pernah menjadi salah satu faktor yang mengakhiri perang Vietnam. Kini, situasi serupa berpotensi terulang di Timur Tengah.
Akankah pemerintahan Trump mendengar suara dari dalam negeri, atau tetap memaksakan ambisi geopolitiknya? Yang pasti, para prajurit AS mulai angkat suara: mereka enggan menjadi korban perang yang sejak awal dinilai sia-sia.
Pengamat militer menilai, kombinasi antara ketidakpastian kemenangan dan resistensi internal bisa memaksa Washington mengevaluasi ulang strateginya di kawasan.
Sementara itu, hotline Center on Conscience & War diperkirakan akan terus berdering setiap dering adalah suara keberanian di tengah hiruk-pikuk mesin perang. (FD)