MEDAN – Menyongsong pelaksanaan Operasi Ketupat Toba 2025, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto menegaskan pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai alat utama transparansi dan akuntabilitas kepolisian.
Hal ini mengemuka dalam Analisis dan Evaluasi (Anev) operasi yang digelar di Taman Hutan Jati Mapolda Sumut, Jumat pagi, dengan partisipasi hybrid para Kapolres se-Sumut, Kompolnas RI, serta jajaran pimpinan Polda.
“Platform seperti TikTok dan Instagram harus jadi andalan untuk menunjukkan kinerja nyata Polri kepada masyarakat. Posting aktivitas lapangan, respons cepat saat darurat, dan edukasi publik. Jangan biarkan ruang digital diisi narasi negatif,” tegas Whisnu Hermawan dalam paparannya.
Fokus Update Real-Time & Kolaborasi Publik
Kapolda Sumut meminta seluruh jajaran meningkatkan update informasi langsung melalui medsos resmi, mencakup kondisi lalu lintas, penanganan bencana, hingga layanan mudik.
“Masyarakat butuh kepastian, bukan rumor. Pastikan konten kreatif dan informatif diunggah setiap hari,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi personel yang terjun langsung ke lokasi rawan, sembari mengingatkan pentingnya disiplin koordinasi.
“Tidak ada yang boleh meninggalkan wilayah tanpa izin selama operasi. Kehadiran kita adalah kunci kepercayaan publik,” ujarnya.
Strategi Humas Digital untuk Akuntabilitas
Sebagai bentuk transparansi Operasi Ketupat Toba 2025, Bidang Humas Polda Sumut diperintahkan memperkuat ekspos kegiatan melalui siaran pers, live report, dan kolaborasi dengan influencer lokal.
“Setiap tindakan harus terdokumentasi dan terpublikasi. Ini bukan sekadar pengamanan, tapi juga membangun citra Polri yang responsif,” tegas Whisnu.
Pertemuan ini juga menggarisbawahi perlunya sinergi antar-wilayah, terutama dalam antisipasi lonjakan arus balik. Dengan kombinasi strategi digital dan operasional lapangan, Kapolda yakin operasi ini akan memenuhi target keamanan berbasis kepercayaan masyarakat. (FD)