MEDAN – Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital dan tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks, Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengajak ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk kembali pada sumber nilai fundamental: Alquran.
Momen peringatan Nuzulul Quran 1447 H/2026 M di Masjid Rumah Dinas Gubernur, Sabtu (7/3/2026) malam, menjadi titik refleksi kolektif tentang bagaimana kitab suci yang diturunkan 14 abad lalu tetap relevan sebagai kompas moral dalam tata kelola pemerintahan modern.
“Visi Sumut maju tidak akan tercapai hanya dengan anggaran besar dan proyek megah. Fondasinya adalah karakter dan integritas ASN yang bersumber dari nilai-nilai ilahiah,” tegas Surya di hadapan jajaran pejabat dan ASN lingkungan Pemprov Sumut yang memadati masjid.
Dengan gaya kepemimpinan yang merakyat, Surya mengurai benang merah antara ajaran Alquran dan tantangan birokrasi kekinian. Ia menyoroti tiga nilai utama yang harus menjadi DNA para abdi negara amanah dalam mengelola kepercayaan publik, adil dalam setiap pengambilan keputusan, dan ikhlas dalam melayani 15 juta jiwa warga Sumut.
“Alquran tidak hanya dibaca indah di bulan Ramadan, tapi harus kita hidupkan dalam kebijakan dan pelayanan sehari-hari. Ketika warga datang dengan wajah lelah mengurus KTP atau izin usaha, sambut mereka sebagai tamu Allah yang harus dimuliakan,” pesan Wagub yang dikenal dekat dengan masyarakat ini.
Birokrasi Berintegritas: Antara Kecerdasan dan Ketulusan
Peringatan Nuzulul Quran tahun ini terasa istimewa dengan kehadiran penceramah kondang Ustaz M Yasir Tanjung yang menyampaikan tausiyah menggugah.
Mengupas kitab monumental Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Ustaz Yasir mengajak jamaah merenungkan hakikat keimanan yang teruji di bulan suci.
“Ada dua indikator orang beriman saat Ramadan: syukur saat nikmat datang dan sabar saat ujian menerpa. Dan untuk ASN, ujian terbesarnya justru saat jabatan tinggi dan tunjangan besar,” ujar Ustaz Yasir disambut gemuruh “Amin” dari ratusan jamaah.
Baca Juga : Persiapan Maksimal Panitia MTQ ke-58 Bukti Cinta Al-Quran!
Dalam tausiyahnya yang dikemas apik dengan analogi segar, Ustaz Yasir mengkritik fenomena ASN yang gemar pamer kemewahan di tengah masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
“TPP naik? Sedekah juga harus naik. Punya mobil dinas baru? Jadikan itu kendaraan menuju surga dengan menjemput masyarakat yang kesulitan transportasi. Jangan jadi simbol kemewahan yang memisahkan kita dari rakyat,” sindirnya tajam.
Alquran: Warisan Abadi yang Menyelamatkan
Puncak tausiyah menyentuh dimensi spiritual yang lebih dalam: bagaimana Alquran menjadi penyelamat manusia, bukan hanya di dunia tapi juga di alam kubur.
Ustaz Yasir memaparkan konsepsi menarik tentang golongan manusia yang jasadnya dimuliakan Allah dan tidak akan hancur di liang lahat.
“Mereka adalah para pembaca dan penghafal Alquran yang konsisten, para muazin yang ikhlas, serta mereka yang mati dalam tugas membela agama dan negara,” jelasnya mengutip berbagai sumber klasik.
Ustaz Yasir juga mengingatkan tentang tanggung jawab generasi terhadap keluarga.
“Didik anak-anak dengan Alquran. Bukan sekadar bisa membaca, tapi mencintai dan menjadikannya gaya hidup. Karena saat kita terbujur kaku di dalam kubur, hanya amal jariyah dan doa anak saleh yang menolong. Anak-anakmu lah yang akan memandikan, menyalatkan, dan mendoakanmu. Pastikan mereka dekat dengan Alquran agar doanya mustajab.”
Di penghujung acara, Ustaz Yasir membagikan amalan mustajab agar terhindar dari siksa kubur sebagaimana diajarkan ulama kharismatik Kalimantan, Syekh Arsyad Al-Banjari dalam kitab Sabilal Muhtadin.
“Perbanyak baca Alquran, jaga shalat malam, dan perbaiki hubungan dengan sesama. Karena kubur bisa menjadi taman surga atau jurang neraka, tergantung bekal yang kita siapkan,” tuturnya menggetarkan.
Acara yang berlangsung khidmat hingga larut malam itu turut dihadiri Pj Sekdaprov Sumut Sulaiman Harahap, para pimpinan OPD, dan ratusan ASN lintas generasi.
Suasana haru menyelimuti masjid saat doa penutup dipanjatkan, memohon keberkahan dan kekuatan untuk menjadikan Alqukan sebagai lentera dalam mengabdi pada bangsa, negara, dan agama. (Rel)