Kelangkaan BBM: Gubsu Bobby Beri Ultimatum 2 Hari, TNI-Polri Siap Turun Tangan

282

MEDAN – Antrean kendaraan mengular di hampir seluruh SPBU Sumatera Utara sejak akhir pekan lalu. Bukan karena stok habis, melainkan krisis sopir pengangkut BBM.

Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution memberi Pertamina waktu hanya dua hari untuk menormalkan distribusi.

Bukan Kelangkaan, Tapi Sopirnya yang “Langka”

Di tengah panas terik dan kesabaran masyarakat yang menipis, Bobby Nasution angkat bicara usai rapat koordinasi di Kantor Gubernur Sumut, Jalan P. Diponegoro, Medan, Selasa (14/7/2026).

Hasil koordinasi dengan Pertamina menyatakan stok BBM di Sumut aman. Masalah utamanya pemberhentian massal pengemudi truk pengangkut BBM.

“Yang disampaikan Pertamina, sebenarnya bukan kelangkaan BBM, tetapi yang langka adalah pengemudi yang mengantarkan BBM ke SPBU,” tegas Bobby.

Pemberhentian massal ini membuat armada pengangkut tidak bisa beroperasi optimal. Dinas Perindag ESDM Sumut menyebut kendala distribusi dipicu pembenahan manajemen sopir armada di vendor-vendor resmi.

TNI-Polri Siaga: Siap Jadi Sopir Tangki Darurat

Langkah cepat diambil Bobby. Mulai Selasa malam, personel TNI dan Polri disiagakan untuk mengemudikan truk tangki BBM.

“Kami minta mulai malam ini tim dari TNI-Polri sudah ready. Untuk pengontrolan, Pertamina sedang berkoordinasi berapa jumlah yang dibutuhkan,” ujarnya.

TNI-Polri tak hanya sebagai pengemudi, tetapi juga tim pengamanan armada. Sebab proses rekrutmen sopir oleh Pertamina masih berlangsung.

Ultimatum 2 Hari: Masyarakat Jangan Jadi Korban

Bobby memberi batas waktu tegas: dua hari distribusi BBM harus normal. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut berkomitmen mengupayakannya.

Baca Juga : Pertalite & Pertamax Langka, Antrean Mengular Di SPBU! Robi Barus Desak Pemko Tak Tinggal Diam

“Pak Gubernur menekankan agar masalah internal Pertamina Patra Niaga bersama vendor segera diselesaikan. Masyarakat jangan jadi korban,” tegas Kadis Perindag ESDM Sumut, Dedi Jaminsyah Putra Harahap.

Bobby juga menyayangkan kurangnya informasi awal dari Pertamina. “Kalau ada persoalan operasional seperti ini, harusnya disampaikan lebih awal ke pemerintah daerah. Jangan sudah kejadian baru sibuk,” ujarnya.

Dampak ke Masyarakat: Panic Buying dan Antrean Mengular

Kelangkaan mulai dirasakan sejak Minggu (12/7/2026). Antrean panjang terjadi di Medan, Binjai, hingga Pematangsiantar. Di Jalan HM Yamin, warga mengaku mengantre lebih dari 30 menit.

“Siang hari panas juga di sini, jadi lengkap sudah,” keluh Wahyudi, warga yang mengantre Pertamax. Di Jalan Lintas Sumatera, antrean kendaraan sampai tumpah ruah ke jalan raya.

Ironisnya, kelangkaan ini terjadi saat pemerintah resmi menerapkan mandatori biodiesel B50 per 1 Juli 2026. Warga pun curiga ada penimbunan dan alih fungsi subsidi.

Bobby menegaskan stok BBM tetap mencukupi dan pasokan dari luar daerah berjalan normal. Pertamina pun menambah armada pengangkut.

“Yang penting masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan BBM,” pungkas Bobby.

Krisis ini jadi pelajaran penting tentang koordinasi dan transparansi. Persoalan internal perusahaan tak boleh dibiarkan mengganggu hajat hidup orang banyak.

Krisis BBM Sumut bukan karena stok habis, tapi karena sopir truk pengangkut mogok massal. Gubernur Bobby Nasution beri ultimatum 2 hari dan kerahkan TNI-Polri sebagai sopir darurat. Masyarakat berharap distribusi segera normal agar aktivitas dan ekonomi tak terganggu. (Rel)