Gamsuti: Kisah Kota Hantu di Ketinggian Kaukasus yang Dilupakan

330

DIBALIK pegunungan Kaukasus yang megah, tersembunyi sebuah desa mati yang menyimpan seribu cerita. Gamsuti, permukiman kuno suku Avar di ketinggian 2.000 mdpl, kini hanya menjadi bayangan kejayaan masa lalu. Apa yang terjadi pada desa ini, dan mengapa pemerintah membiarkannya terlantar?

Dari Permukiman Pertahanan ke Kota Hantu
Dibangun berabad-abad lalu oleh suku Avar, Gamsuti awalnya adalah desa pertahanan dengan rumah-rumah batu berundak yang kokoh. Letaknya yang strategis di lereng curam melindungi warga dari serangan musuh. Namun, di akhir abad ke-20, penduduk mulai meninggalkan Gamsuti secara massal.

Penyebab Ditinggalkan :
– Tidak ada akses listrik, air bersih, atau jalan layak.
– Medan ekstrem menyulitkan distribusi logistik.
– Generasi muda memilih pindah ke kota dengan fasilitas modern.

“Gamsuti adalah simbol ketahanan, tapi tak bisa bertahan di era modern,” kata Shamil Kurbanov, sejarawan lokal.

Respons Pemerintah: Diam atau Lestarikan?
Pemerintah Dagestan dan federal Rusia mengambil sikap netral terhadap Gamsuti:
– Tidak ada program pemukiman kembali – Dianggap tidak ekonomis.
– Pelestarian terbatas – Masuk daftar warisan lokal, tapi tanpa pendanaan.
– Pariwisata dibiarkan alami – Tidak ada promosi, tapi wisatawan boleh datang.

Beberapa aktivis budaya menyesalkan sikap ini. “Gamsuti bisa jadi museum hidup andai ada political will,” ujar Leyla Gamzatova dari LSM “Kaukasus Heritage”.

Masihkah Wisatawan Berkunjung?
Meski terpencil, Gamsuti menarik segelintir petualang:
✅ Fotografer – Pemandangan dramatis rumah batu dan pegunungan.
✅ Backpacker ekstrem – Trekking 3 jam dari Gunib tanpa fasilitas.
✅ Peneliti budaya – Mempelajari arsitektur tradisional Avar.

“Butuh nyali besar ke sini. Tapi pemandangannya tak tertandingi,” kata Ivan Petrov, traveler asal Moskow yang baru kembali dari Gamsuti.

Masa Depan Gamsuti: Akan Jadi Apa?
Tanpa intervensi serius, nasib Gamsuti diperkirakan tetap sama:
– Tetap menjadi kota hantu dengan kunjungan wisatawan sporadis.
– Risiko kerusakan alami – Erosi dan longsor mengancam struktur bangunan.
– Peluang jadi destinasi eksklusif – Jika ada investor berani bangun jalur trekking aman.

#SaveGamsuti?
Komunitas lokal mulai menggalang kesadaran, tapi butuh dukungan lebih besar. “Kami ingin dunia tahu, Gamsuti adalah harta yang perlahan hilang,” tambah Leyla.

Bagi yang ingin mengunjungi Gamsuti
– Panduan: Butuh pemandu lokal dari Gunib.
– Waktu terbaik : Mei-September.
– Alternatif: Kunjungi Chokh atau Goor untuk nuansa serupa dengan akses lebih mudah. (RedaksiKitaMedan.Com)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com