MEDAN – Di era ketika gaya hidup mudah terbentuk dari tren media sosial, tumbler tak lagi sekadar wadah minum. Ia telah berubah menjadi simbol identitas, bahkan ukuran status sosial.
Banyak orang rela mengeluarkan uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi memiliki tumbler dengan desain kekinian, warna langka, atau edisi terbatas yang dianggap mampu mencerminkan kelas dan gaya hidup modern.
Fenomena ini diamati langsung oleh Merry S, seorang psikolog di Medan. Ia menilai bahwa perilaku tersebut erat kaitannya dengan kebutuhan manusia untuk diterima secara sosial.
“Saat ini, benda sederhana seperti tumbler bisa menjadi alat pembentuk citra diri. Banyak yang merasa lebih percaya diri ketika membawa tumbler bermerek karena dianggap menunjukkan kelas dan selera,” ujarnya.
Di platform media sosial, tren ini semakin menguat. Foto tumbler dengan latar kafe, meja kerja estetik, hingga outfit bernuansa senada, menjadi konten yang membentuk persepsi bahwa tumbler tertentu melambangkan gaya hidup yang lebih tinggi.
Hal ini kemudian memicu munculnya kebutuhan mengikuti tren agar tidak dianggap kurang fashionable atau ketinggalan zaman.
Merry S menambahkan bahwa masyarakat kini terjebak pada persepsi simbolik terhadap barang.
“Fungsinya tetap sama, hanya tempat minum. Tetapi maknanya berkembang karena tekanan sosial dan strategi pemasaran yang membuat kita merasa harus punya yang lebih mahal atau lebih unik,” katanya.
Pada akhirnya, tumbler hanyalah contoh kecil bagaimana objek sederhana dapat berubah menjadi representasi status ketika dipengaruhi budaya visual, lingkungan sosial, dan kebutuhan psikologis untuk diakui.
Benda yang semestinya praktis kini memuat lapisan makna baru—tentang selera, citra diri, dan bagaimana seseorang ingin dilihat oleh dunia.(RS)