Gagal 4 Kali Ketuk Pintu Wali Kota, Massa GRIB Jaya ‘Bernaung’ ke Polrestabes Medan
MEDAN – Dalam sebuah pertemuan yang sarat nuansa politik, 10.000 lebih massa GRIB Jaya memilih bersinergi dengan Polrestabes Medan. Ini terjadi setelah mereka mengaku “ditolak” empat kali oleh Pemko Medan untuk sekadar bertemu.
Pertemuan antara Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, dengan para petinggi GRIB di lobby Mapolrestabes, Senin (17/11/2025) sore, jauh dari sekadar formalitas. Audiensi ini berhasil membuka “kotak Pandora” soal relasi rumit antara ormas, kekuasaan, dan kontestasi pilkada.
Blak-blakan di Depan Kapolrestabes: “Kami Diduga Dihambat karena Politik Pilkada”
Sekcab GRIB, Drs. Toyib Marbun, tak sungkan menyampaikan kekecewaannya langsung di hadapan Kapolrestabes. “Sudah empat kali kami minta audiensi, tidak pernah ada tanggapan dari Wali Kota. Kami menduga ini terkait dinamika dukungan di Pilkada Medan,” ujarnya blak-blakan. Sebuah pernyataan yang menyiratkan adanya ‘kubu’ dalam tubuh GRIB yang tidak disukai oleh incumbent.
Di sisi lain, GRIB justru mendapat sambutan hangat dari aparat keamanan. Kapolrestabes dengan tegas menyambut GRIB sebagai mitra strategis.
“Kami apresiasi dan ajak GRIB bersama jaga keamanan Kota Medan. Pembinaan akan kita koordinir dengan Sat Intelkam,” tegas Kombes Jean Calvijn Simanjuntak.
Dari Makan Gratis hingga 10.000 Massa: Kekuatan Nyata di Balik Meja Perundingan
Pertemuan ini bukan sekadar bicara soal massa, tapi juga bukti kerja nyata. GRIB memamerkan “amunisi” sosial mereka:
· Program Makan Siang Gratis: 500-700 porsi/hari untuk warga kurang mampu.
· Kekuatan Massa: 10.000 anggota terdaftar di Kota Medan.
· Struktur Solid: Memiliki sayap Satgas, Srikandi, LBH, dan Generasi Muda (Satma).
Fakta ini menunjukkan bahwa GRIB bukan ormas sembarangan. Mereka memiliki basis massa yang besar dan program yang langsung menyentuh masyarakat.
Apa Arti Semua Ini?
Pertemuan ini mengirim sinyal kuat:
1. Politik Akses
Kesulitan GRIB menemui Wali Kota mengindikasikan memanasnya suhu politik jelang Pilkada Medan, di mana ormas besar menjadi ‘barang dagangan’ yang diperhitungkan.
2. Polisi sebagai Penyeimbang Polrestabes Medan memposisikan diri sebagai pihak yang netral dan mampu menjadi jembatan bagi semua elemen, termasuk ormas yang merasa ‘dipinggirkan’ secara politik.
3. Kekuatan Rakyat vs Kekuasaan
GRIB menunjukkan bahwa di tengah kesulitan politik, mereka memiliki ‘rumah’ dan mitra di kepolisian, serta tetap akan menjalankan peran sosialnya untuk rakyat.
Dengan 10.000 massa dan program sosialnya, GRIB telah meletakkan kartunya di meja. Kini, bola ada di pihak pemangku kebijakan. Maukah mereka membuka dialog, atau membiarkan ormas besar ini sepenuhnya ‘bernaung’ di bawah sayap aparat keamanan? (FD)