Pil Pahit PSMS Medan: Dominasi Tanpa Gol, Unggul Pemain tapi Kalah 0-1 dari Garudayaksa

80

CIBINONG – Drama petaka kembali menghampiri PSMS Medan. Bermain dengan superioritas jumlah pemain sejak babak pertama usai lawan diganjar kartu merah, justru Ayam Kinantan pulang dengan tangan hampa.

Garudayaksa sukses mencuri kemenangan 1-0 lewat gol cepat Everton pada menit ke-7 di Stadion Pakansari, Cibinong, Sabtu (11/4/2026) sore.

Alih-alih membalas dendam atas kekalahan sebelumnya, PSMS malah mencatatkan statistik memilukan: dominasi penguasaan bola hingga 68%, 15 percobaan tembakan, namun nihil gol.

Ironisnya, keunggulan jumlah pemain sejak injury time babak pertama setelah Aditia Hermawan diusir wasit justru membuat Garudayaksa semakin disiplin bertahan.

Gol kilat Everton di menit awal menjadi mimpi buruk yang tak terkejar. Tendangan jarak dekat setelah memanfaatkan kemelut di kotak penalti membuat kiper PSMS hanya bisa terdiam. Sejak saat itu, PSMS terseret emosi dan bermain terburu-buru.

Baca Juga : Belum Pernah Menang, PSMS Medan Bertekad Pecah Telur di Kandang Garudayaksa: Eko vs Widodo, Duel Mantan Timnas!

Pelatih PSMS, Eko Purdjianto, tampil dengan wajah muram usai laga. “Kami kecewa berat. Banyak peluang emas, tapi tidak ada yang jadi gol. Bermain dengan keunggulan pemain, tapi tidak maksimal. Secara pribadi, ini sangat mengecewakan,” tegasnya.

Menurut Eko, setelah Garudayaksa bermain dengan sembilan pemain, mereka langsung mengubah formasi menjadi 5-4-0 yang rapat, hanya mengandalkan serangan balik cepat.

“Kami kesulitan menembus dinding pertahanan mereka. Padahal celah ada, tapi penyelesaian akhir kami kacau,” tambahnya.

Senada, gelandang Jodi Kurniady mengakui tim sudah berjuang maksimal. “Hasil belum berpihak. Kami akan berbenah total,” ucapnya singkat.

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi asa PSMS di babak Championship. Tim Medan kini gagal memanfaatkan keunggulan pemain dalam dua laga beruntun. Pekerjaan rumah besar menanti: evaluasi lini depan dan strategi membongkar pertahanan massal.

Eko Purdjianto menolak larut dalam kesedihan. “Masih ada tiga pertandingan. Dua kandang, satu tandang. Wajib sapu bersih!” tegasnya.

Apakah PSMS bangkit atau justru terbenam dalam dominasi tanpa gol? Yang jelas, nyaris 3.000 suporter yang hadir di Pakansari pulang dengan pertanyaan besar: Mengapa punya bola lebih tapi tak bisa mencetak?

Jawabannya kini menjadi bahan perbincangan hangat di linimasa sepak bola Indonesia. Satu hal pasti: sepak bola bukan hanya soal penguasaan, tapi efektivitas di kotak penalti. Dan PSMS kembali gagal lulus ujian itu. (Rel)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com