Rico Waas Dorong Purnabakti Lurah Abadikan Pengalaman dalam Buku: “Lurah yang Baik Akan Selalu Dikenang”

72

MEDAN – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menggulirkan gagasan brilian yang layak ditiru daerah lain: mendorong setiap purnabakti lurah untuk menulis buku pengalaman mereka.

Bukan sekadar kenangan, tapi sebagai catatan sejarah otentik sekaligus bahan pembelajaran bagi generasi pemimpin masa depan.

Gagasan ini disampaikan Rico Waas saat menerima audiensi Forum Silaturahmi Purnabakti Lurah (FSPL) Kota Medan di Rumah Dinas Wali Kota, Selasa (26/5/2026).

Di hadapan puluhan mantan lurah yang telah mengabadi berpuluh tahun, Rico menegaskan bahwa pengalaman lapangan mereka adalah aset tak ternilai.

“Lurah itu ujung tombak pemerintah. Mereka yang bersentuhan langsung dengan warga, memahami dinamika sosial, gotong royong, hingga konflik warga. Pengalaman itu tidak boleh hilang begitu saja,” ujar Rico.

Ia menambahkan, para purnabakti lurah adalah saksi hidup bagaimana kebijakan publik dijalankan di akar rumput. Mulai dari program penanganan banjir, penertiban PKL, vaksinasi massal, hingga pelayanan administrasi kependudukan.

Baca Juga : Bupati Simalungun Hadiri Pengukuhan PERPUKADESI, Dorong Inovasi Tata Kelola Daerah

Semua itu mengandung pelajaran tentang keberhasilan, kegagalan, dan strategi adaptasi yang sangat relevan bagi lurah aktif maupun calon pemimpin di masa depan.

Mengapa Buku?
Menurut Rico, format buku memberikan kedalaman dan keabadian. “Beda dengan unggahan media sosial yang cepat tenggelam. Buku bisa dibaca ulang, dirujuk, dan disimpan di perpustakaan kelurahan, kecamatan, hingga sekolah-sekolah,” tegasnya.

Rico Waas juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi para mantan lurah. Atas nama Pemerintah Kota Medan, ia mengakui bahwa jejak pengabdian mereka tetap hidup di tengah masyarakat.

“Jika seorang lurah bekerja dengan baik, dekat dengan warga, memberi pelayanan maksimal, dia akan selalu dikenang. Namanya akan disebut dalam setiap musyawarah warga, meski sudah purnatugas,” kenangnya.

Ketua FSPL Medan, Ahmad, menyambut hangat dorongan tersebut. Ia menjelaskan bahwa forumnya menjadi wadah bagi mantan lurah untuk terus berkontribusi dalam pembangunan kota, meski tidak lagi menjabat. Salah satunya dengan menjadi mitra konsultatif bagi lurah aktif.

“Kami berharap Pak Wali Kota berkenan mengukuhkan kepengurusan FSPL periode 2025–2030. Dengan legitimasi resmi, organisasi ini akan lebih bermanfaat. Pengalaman kami bisa menjadi masukan konkret untuk membantu menjaga kondisi Medan tetap kondusif,” ujar Ahmad.

Ahmad mencontohkan, para purnabakti lurah bisa dilibatkan dalam program pendampingan lurah baru, mediasi konflik warga, atau penulisan sejarah kelurahan.

Mereka juga bisa menjadi narasumber dalam pelatihan kepemimpinan bagi aparatur kelurahan.

Di akhir audiensi, Rico menekankan filosofi kepemimpinannya pemerintah harus hadir untuk masyarakat, bukan hanya niat, tapi tindakan nyata. Buku-buku karya mantan lurah nantinya akan menjadi bukti nyata bagaimana pemerintah hadir, berjuang, dan belajar dari setiap pengalaman.

Langkah Rico Waas ini sangat strategis untuk melestarikan memori kolektif birokrasi Indonesia. Bayangkan jika setiap daerah melakukan hal serupa.

Perpustakaan daerah akan dipenuhi buku-buku inspiratif dari para mantan lurah, camat, bahkan kepala desa. Generasi muda tak perlu lagi mencari ilmu kepemimpinan dari buku luar negeri yang konteksnya berbeda.

Mereka bisa belajar langsung dari pahlawan lokal yang pernah membangun Medan dari tingkat kelurahan. (Rel)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com