Menguras 27 Tembakan, Spanyol Hanya Tersenyum 0-0 di Atlanta
ATLANTA — Di bawah terik lampu stadion yang menyala bak matahari Atlanta, euforia sepak bola dunia sedang diuji. Cerita ini bukan tentang si raksasa yang perkasa, melainkan tentang seorang debutan yang dengan dingin membisukan teriakan “Olé!” Spanyol.
Tanjung Verde, tim yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di panggung Piala Dunia, secara mengejutkan sukses menahan salah satu kandidat kuat juara dengan skor 0-0 dalam laga perdana Grup H, Senin (15/6/2026) malam.
Meski seluruh peta kekuatan dan data canggih meramalkan kehancuran, nyatanya Tanjung Verde menjelma menjadi “tembok tak tertembus” di Atlanta Stadium.
Spanyol benar-benar melakukan segalanya. Mereka menusuk dari sisi sayap, menusuk dari tengah, bahkan melepaskan rentetan tembakan yang mencapai 27 kali sepanjang pertandingan. Namun, nihil. Angka 0 di papan skor begitu tegas sampai peluit panjang dibunyikan.
Sensasi “kebuntuan” ini terasa sejak babak pertama. Sepak terjang Luis de la Fuente memang menguasai lini tengah dengan hampir 80 persen penguasaan bola.
Tapi setiap kali bola memasuki kotak penalti tim debutan, para pemain Spanyol seolah menabrak dinding karet yang memantulkan setiap serangan.
Baca Juga : Uruguay Nyaris Kena Kutukan Lagi, Diselamatkan Araujo Di Menit 80
Bukan hanya gemilang, pertahanan Tanjung Verde yang digalang oleh veteran berusia 42 tahun, Vozinha, seperti kerasukan kekuatan magis.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, yang di pinggir lapangan terlihat gelisah, mencoba segalanya—termasuk memasukkan bintang muda Lamine Yamal pada menit ke-71 untuk menambah daya gedor.
Nyatanya, Yamal yang berlari seperti angin pun masih belum bisa membongkar rahasia di balik sarung tangan kiper lawan. Vozinha menyelesaikan laga dengan torehan penyelamatan krusial yang membuatnya menangis haru usai laga.
Atmosfer di dalam lapangan begitu panas dan emosional. Gelandang bintang Spanyol, Rodri, mengakui bahwa mereka bukan kalah kualitas, melainkan kalah “perang fisik”.
“Sulit bermain melawan tim yang sangat fisikal seperti itu,” ujar Rodri lirih pasca pertandingan, seolah masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Ia menegaskan bahwa lawan sangat cepat saat melancarkan serangan balik, ditambah kedisiplinan mereka yang membuat Spanyol frustrasi.
Anehnya, meski tampil mendominasi, lini depan Spanyol justru terlihat “mati langkah”. Dalam catatan sejarah unik, penyerang Spanyol, Mikel Oyarzabal, menjadi pemain pertama sejak 1966 yang tidak menyentuh bola sama sekali dalam 30 menit pertama pertandingan Piala Dunia.
Sebuah bukti nyata betapa efektifnya strategi pertahanan Tanjung Verde yang membuat lini belakang dan kiper mereka begitu sibuk sampai-sampai sang penyerang kehausan umpan.
Hingga menit akhir, Spanyol terus menggempur. Peluang emas sempat hadir ketika sundulan Oyarzabal dan sepakan Ferran Torres menemui jalan buntu.
Tendangan Ferran yang membentur mistar, disusul sundulan Oyarzabal pun masih mampu diamankan oleh Vozinha yang terbang layaknya superhero di bawah mistar.
“Tidak ada lawan kecil di sini,” keluh De la Fuente usai laga, sembari mengakui timnya kurang segar dan kehilangan ketajaman.
Dengan hasil ini, Spanyol hanya membawa pulang 1 poin, begitu pula Tanjung Verde. Meski gagal maksimal, para pendukung Spanyol yang memadati stadion mungkin harus menggigit jari.
Sementara itu, publik Tanjung Verde yang jumlahnya minoritas merayakan hasil ini seakan mereka baru saja memenangkan trofi.
Di pertandingan selanjutnya, Spanyol akan berhadapan dengan Arab Saudi, sementara Tanjung Verde yang penuh percaya diri akan menghadapi Uruguay. (Red)