Bapenda Medan Blusukan ke Raeye hingga Golden Tiger, Awasi Ketat Pajak Hiburan demi Genjot PAD

243

MEDAN — Langit Kota Medan belum sepenuhnya terlelap. Di balik gemerlap lampu neon dan dentum musik dari pusat hiburan malam, sebuah operasi senyap namun krusial tengah berlangsung.

Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Medan, di bawah komando Kepala Bapenda M. Agha Novrian, melakukan blusukan strategis pada Sabtu hingga Minggu dinihari (pukul 01.00 WIB). Sasaran mereka bukan sekadar rutinitas, melainkan jantung denyut Pendapatan Asli Daerah (PAD): sektor pajak hiburan.

Tim gabungan yang terdiri dari jajaran elite Bapenda—Sekretaris Bapenda Ali Fitri Harahap, Kabid Pajak HRH Irvan Parlindungan Lubis, Kabid Parkir dan Retribusi Ibrahim Mangara Laut, serta Kepala UPT IV Mustaqim Siregar—menyisir tiga lokasi ikonik: Raeye, Golden Tiger, dan Gold Dragon.

Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. Di tengah meningkatnya kebutuhan anggaran pembangunan, kebocoran pajak dari sektor hiburan menjadi “PR” besar yang harus ditutup rapat.

Jika media lain hanya melaporkan kunjungan, Bapenda Medan memiliki pendekatan berbeda. Agha Novrian menegaskan bahwa monitoring ini adalah “operasi intelijen” data.

Baca Juga : Medan Terdepan! Bapenda Luncurkan SI4P, Sistem Pajak Cerdas Berbasis AI yang Bakal Ubah Wajah Restoran & Kafe

Tim tidak hanya memverifikasi kesesuaian pembayaran pajak dengan tarif yang berlaku, tetapi juga melakukan penghitungan riil terhadap tingkat keramaian dan aktivitas pengunjung di lapangan.

“Kami tidak ingin hanya percaya pada laporan angka di atas kertas. Malam ini, kami melihat langsung denyut nadi pengunjung. Data empiris soal lonjakan kunjungan ini akan kami sandingkan dengan laporan manajemen usaha. Jika ada selisih signifikan, di situlah potensi kebocoran yang akan kami tindak,” tegas Agha, menjelaskan esensi dari pengawasan proaktif ini.

Pendekatan ini menjadi pembeda dari pemberitaan konvensional. Bapenda Medan menerapkan sistem cross-check antara data digital (e-tax) dan realitas fisik.

Tujuannya jelas memastikan tidak ada satu rupiah pun potensi pajak yang luput dari kas daerah. Sektor hiburan malam, dengan perputaran uang yang cepat dan kerap melibatkan transaksi tunai, memang menjadi wilayah rawan manipulasi.

Kehadiran petugas hingga jam 01.00 WIB membuktikan keseriusan pemerintah dalam mengawal setiap sen PAD.

Peningkatan PAD dari sektor hiburan bukan sekadar angka di APBD. Ini adalah fondasi untuk mewujudkan program pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas pelayanan publik yang dicanangkan Pemerintah Kota Medan.

Setiap rupiah pajak yang terkumpul akan dikonversi menjadi perbaikan jalan, penerangan, fasilitas kesehatan, dan ruang publik yang layak.

Melalui langkah persuasif namun tegas ini, Bapenda mengirim pesan kuat kepada seluruh pelaku usaha hiburan: kepatuhan adalah harga mati. Pemerintah Kota Medan tidak akan mentoleransi praktik curang yang merugikan masyarakat banyak.

“Kami ingin menciptakan iklim usaha yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Yang patuh akan kami dukung, yang mencoba bermain-main akan kami tindak,” pungkas Agha.

Langkah Bapenda Medan ini patut diapresiasi. Di saat banyak daerah hanya menunggu bola, Medan memilih untuk menjemput bola.

Blusukan malam ini adalah bukti nyata bahwa optimalisasi PAD bukanlah slogan, melainkan aksi nyata di lapangan. Warga Medan pun berhak menantikan hasilnya: kota yang lebih terang, jalan yang lebih mulus, dan layanan publik yang semakin prima. (FD)