DELI SERDANG – Malam kelam masih menyelimuti kawasan Bandara Internasional Kualanamu, Senin subuh (5/10/2026).
Bagi Rizal, pekerja yang baru saja menyelesaikan shift malamnya, jalur pulang menuju kediamannya di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, seharusnya menjadi rute rutin yang aman.
Namun, siapa sangka, kengerian justru mengintai tepat di depan gerbang pintu keluar bandara kebanggaan Sumatera Utara tersebut.
Peristiwa pembegalan yang dialami Rizal bukan sekadar tindak kejahatan jalanan biasa. Insiden ini menjadi tamparan keras bagi klaim keamanan kawasan bandara, sekaligus mengungkap titik rawan yang selama ini luput dari perhatian.
Kronologi kejadian bermula saat korban mengendarai Yamaha Aerox miliknya, melaju dari arah Bandara Kualanamu. Baru beberapa meter melewati SPBU yang berada tak jauh dari gerbang keluar, malapetaka itu datang.
Baca Juga : Setahun Buron, DPO Begal Jalan Juanda Ditangkap: Peran Ancaman dan 5 TKP Diakui
Tanpa aba-aba, kawanan begal yang berjumlah tiga orang dengan dua unit sepeda motor—masing-masing Honda Beat dan Vario—mencegat korban.
Bukan sekadar mengancam, salah satu pelaku yang duduk di depan langsung melayangkan senjata tajam jenis celurit ke arah tubuh Rizal.
Serangan brutal itu membuat korban kehilangan kendali dan terjatuh keras di aspal dingin. Dalam kondisi terdesak dan terluka, Rizal tak berdaya.
Para pelaku dengan cepat menguasai Yamaha Aerox korban, lalu tancap gas melarikan diri ke arah Pos 11 Bandara Kualanamu.
Lokasi kejadian ini menjadi ironi yang menyakitkan. Jalur tersebut merupakan akses utama keluar-masuk kawasan bandara, area yang seharusnya steril dari aksi kriminalitas.
Keterangan warga yang dihimpun di lokasi, Rabu (7/10/2026), menyebutkan bahwa Rizal baru saja keluar dari area bandara, tempat di mana ia mencari nafkah.
“Keberadaan Pos 11 menjadi perhatian karena di kawasan bandara yang seharusnya terdapat pengamanan dari AVSEC Bandara Kualanamu,” ujar Rasmi, seorang warga sekitar, dengan nada prihatin.
Pertanyaan pun mencuat: Di mana fungsi pengamanan AVSEC? Mengapa jalur vital yang menjadi urat nadi mobilitas bandara justru menjadi sarang begal?
Insiden ini bukan hanya tentang kehilangan satu unit motor, melainkan tentang rasa aman yang tercabut dari para pekerja dan pengguna bandara.
Aksi begal bersenjata celurit di area publik yang seharusnya dijaga ketat ini memicu kekhawatiran kolektif. Warga berharap aparat kepolisian segera menangkap komplotan ini dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan di perimeter Bandara Kualanamu.
Jangan sampai prestasi bandara bertaraf internasional ternoda oleh aksi premanisme jalanan yang meresahkan.
Kejadian ini harus menjadi alarm bagi semua pihak bahwa keamanan di titik-titik rawan, terutama di jalur keluar-masuk bandara, tidak boleh lengah, apalagi di jam-jam subuh yang minim pengawasan. (FD)