Damaskus, Kota Tertua di Dunia yang Masih Hidup: Jejak Peradaban 11.000 Tahun

MEDAN – Damaskus, ibu kota Suriah, dinobatkan sebagai kota tertua di dunia yang masih berpenghuni hingga kini. Dengan usia lebih dari 11.000 tahun, kota ini telah dihuni sejak sekitar 9.000 SM.

Terletak di kawasan strategis Timur Tengah, dekat Sungai Barada, Damaskus menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban manusia. Kota ini bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat kehidupan modern dengan lebih dari 2 juta penduduk yang menjadikannya salah satu kota besar yang tetap aktif hingga kini.

Menurut Dr. Ahmad Al-Jallad, arkeolog dan pakar sejarah Timur Tengah dari Universitas Leiden menjabarkan Damaskus adalah permata sejarah yang luar biasa. Kota ini tidak hanya menjadi pusat perdagangan penting antara Mesir dan Mesopotamia pada masa kuno, tetapi juga menyimpan lapisan-lapisan peradaban, mulai dari Aram, Romawi, Bizantium, hingga Islam.

Ia menambahkan bahwa peninggalan arkeologi seperti Masjid Umayyah dan tembok kota kuno menjadi bukti nyata betapa kaya warisan budaya Damaskus.

Keunikan Damaskus terletak pada perannya sebagai jembatan budaya dan perdagangan di masa lalu. Ribuan tahun lalu, kota ini menjadi titik temu pedagang dari berbagai penjuru dunia, menghubungkan peradaban besar seperti Mesir Kuno dan Mesopotamia.

Hingga kini, pasar-pasar tradisional seperti Souq Al-Hamidiyyah masih ramai, mencerminkan denyut nadi kota yang tak pernah padam.

Kota-Kota Kuno Lain yang Masih Berpenghuni
Selain Damaskus, dunia juga mengenal kota-kota kuno lain yang masih bertahan. Salah satunya adalah Jericho di Tepi Barat, yang juga dihuni sejak sekitar 9.000 SM.

Kota ini terkenal sebagai salah satu kota pertama di dunia yang memiliki tembok pertahanan, dan sering disebut dalam kitab suci seperti Alkitab dan Al-Qur’an.

“Jericho menawarkan wawasan penting tentang bagaimana manusia purba mulai membentuk komunitas yang terorganisir,” kata Dr. Al-Jallad.

Kota lain yang tak kalah menarik adalah Byblos di Lebanon, dihuni sejak sekitar 5.000 SM. Byblos dikenal sebagai tempat kelahiran alfabet Fenisia, cikal bakal sistem tulisan modern. Menariknya, nama “Bible” (kitab suci) berasal dari nama kota ini, yang dalam bahasa Fenisia berarti “papirus” atau “buku”. Hingga kini, Byblos tetap menjadi destinasi wisata sejarah yang memukau.

Mengapa Kota-Kota Ini Penting?

Kota-kota kuno seperti Damaskus, Jericho, dan Byblos bukan hanya warisan arkeologi, tetapi juga cerminan ketahanan manusia dalam menghadapi zaman.

“Mempelajari kota-kota ini membantu kita memahami bagaimana manusia beradaptasi, berinovasi, dan membangun peradaban yang bertahan ribuan tahun,” ungkap Dr. Al-Jallad.

Ia menekankan pentingnya menjaga situs-situs bersejarah ini dari ancaman konflik dan kerusakan lingkungan agar generasi mendatang tetap bisa belajar dari masa lalu.

Dengan kekayaan sejarah dan budaya yang dimilikinya, Damaskus dan kota-kota kuno lainnya mengajak kita untuk menyelami akar peradaban manusia, sekaligus mengapresiasi bagaimana warisan masa lalu tetap relevan di era modern. (Red)

#Arkeologi#Byblos#Damaskus#Jericho#KotaKuno#Peradaban#Sejarah#TimurTengah