MAAG dan asam lambung sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki perbedaan signifikan dalam penyebab dan gejalanya. Pemahaman ini penting untuk menentukan penanganan yang tepat.
Maag: Irritasi pada Lambung
Maag adalah kondisi di mana dinding lambung mengalami peradangan, menyebabkan rasa sakit. Menurut Dr. Amy Foxx-Orenstein dari Mayo Clinic, maag disebabkan oleh iritasi pada lapisan lambung akibat faktor-faktor seperti infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat antinyeri berlebihan, serta konsumsi alkohol atau makanan pedas yang berlebihan. Gejala umumnya meliputi rasa perih, kembung, dan mual.
Maag yang tidak ditangani dapat menjadi kronis dan menyebabkan kerusakan pada dinding lambung, berisiko menimbulkan ulkus. Oleh karena itu, maag memerlukan perhatian khusus agar tidak berkembang menjadi lebih parah.
Asam Lambung: Refluks Asam ke Kerongkongan
Asam lambung, atau gastroesophageal reflux disease (GERD), terjadi ketika cairan asam dari lambung mengalir naik ke kerongkongan. Dr. Michael F. Vaezi dari Vanderbilt University Medical Center menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh kelemahan katup antara lambung dan kerongkongan. Gejala utamanya adalah sensasi terbakar di dada atau heartburn.
Asam lambung bisa dipicu oleh gaya hidup tidak sehat seperti mengonsumsi makanan berlemak, merokok, atau makan terlalu banyak dalam satu waktu.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat merusak lapisan esofagus dan meningkatkan risiko esofagitis atau bahkan kanker esofagus.
Membedakan Gejala Maag dan Asam Lambung
Dr. Will Bulsiewicz, ahli gastroenterologi dan penulis *Fiber Fueled*, menyatakan bahwa maag umumnya ditandai dengan rasa nyeri dan kembung di perut, terutama setelah makan.
Sementara itu, asam lambung cenderung menimbulkan sensasi terbakar di dada atau tenggorokan, terutama ketika berbaring setelah makan.
Maag sering dipicu oleh makanan tertentu seperti makanan asam atau pedas, sedangkan asam lambung dipicu oleh posisi tubuh yang memungkinkan asam mengalir naik ke kerongkongan.
Maag jarang menyebabkan rasa terbakar di dada, sedangkan asam lambung bisa memberikan sensasi panas yang menyebar hingga tenggorokan.
Penanganan yang Berbeda
Penanganan maag dan asam lambung berbeda tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Dr. Erika Schwartz dari NYU Langone Health merekomendasikan untuk maag, langkah awal adalah mengurangi konsumsi makanan pemicu dan menggunakan obat antasida atau penghambat asam seperti ranitidin atau omeprazole.
Jika disebabkan oleh infeksi H. pylori, antibiotik mungkin diperlukan setelah konsultasi dengan dokter.
Untuk asam lambung, Dr. Brian Lacy dari Mayo Clinic menyarankan perubahan gaya hidup seperti menghindari makanan yang memicu refluks, tidak berbaring setelah makan, dan menjaga berat badan ideal.
Beberapa pasien mungkin memerlukan obat yang menurunkan produksi asam, seperti proton pump inhibitors (PPI), untuk mencegah kerusakan esofagus. (cnbc)