JAKARTA – Di jantung Silicon Valley, tempat teknologi masa depan diciptakan, para profesor matematika Universitas Stanford justru setia pada alat tulis dari abad ke-19 kapur dan papan tulis.
Sebuah pertanyaan sederhana di kelas mengungkap preferensi yang mengejutkan baik pengajar maupun mahasiswa lebih memilih metode klasik ini daripada proyektor digital yang canggih.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi pilihan pedagogis yang didukung oleh sejumlah alasan kuat. Brian Conrad, Profesor Matematika dan mantan Direktur Studi Sarjana di Stanford, mengungkapkan bahwa hampir 100% dosen matematika di kampusnya menggunakan kapur.
Keunggulan Kapur di Era Digital
Dilansir dari The Stanford Daily, Conrad menjelaskan bahwa sifat dasar pembelajaran matematika yang bertahap dan penurunan rumit (derivatif) sulit diikuti jika disajikan melalui slide proyektor yang statis.
“Slide berguna untuk presentasi publik, tetapi untuk pengajaran di kelas, kapur dan papan tulis jauh lebih efektif,” tegas Conrad.
Pendapatnya didukung oleh Christine Taylor, dosen matematika. Menurutnya, kecepatan menulis dengan kapur yang alami justru membantu proses penyerapan informasi.
“Kalau menggunakan slide, pembelajaran akan terlalu cepat. Sementara menulis dengan kapur, mau tidak mau kita jadi lebih lambat, sehingga orang dapat menyerap lebih banyak materi,” jelas Taylor.
Ruangan kelas andalan mereka, seperti Sloan Hall 380C, bahkan dilengkapi papan tulis dua tingkat yang luas, memungkinkan eksplorasi ide matematika yang kompleks tanpa terhapus.
Kesetiaan pada Merek Kapur “Legendaris”
Loyalitas dosen Stanford pada kapur bahkan sampai pada pemilihan merek tertentu. Kapur Hagoromo asal Jepang adalah yang paling digemari dan dianggap sebagai “kapur terbaik di dunia”.
Konon, ketika perusahaan Hagoromo bangkrut beberapa tahun lalu, Conrad menggambarkan situasinya sebagai “kiamat kapur”. Ia dan banyak koleganya langsung menimbun persediaan terakhir.
Beruntung, formula Hagoromo kemudian dibeli oleh sebuah perusahaan Korea sehingga produksinya dapat berlanjut. Libby Taylor, mahasiswa S3 Matematika, mengakui hampir tidak ada kapur selain Hagoromo di tempatnya bekerja.
Whiteboard vs Chalkboard: Kapur Unggul
Bahkan jika dibandingkan dengan whiteboard yang lebih modern, papan tulis kapur masih menjadi pilihan. Mereka menyebut penggunaan spidol sebagai “roulette spidol” karena sulit menebak kapan tintanya akan habis.
“Tulisan tangan dengan spidol cenderung lebih buruk. Saat membuat lingkaran, ujung spidol menekan papan sehingga tulisan mengecil dan sulit dibaca,” kata Christine Taylor.
Libby menambahkan, “Whiteboard jauh lebih cepat rusak dan pemasangannya sangat merepotkan. Papan tulis kapur bisa bertahan 20-30 tahun.” Conrad juga menyoroti keunggulan lingkungan: kapur lebih mudah terurai dan pembersihannya tidak memerlukan bahan kimia.
Masa Depan Papan Tulis Kapur
Meski memiliki segudang keunggulan, penggunaan papan tulis kapur semakin jarang. Conrad menuturkan banyak sekolah menengah, seperti Palo Alto High School, telah menyingkirkannya. Bahkan dalam satu kelas di Stanford, hampir tidak ada mahasiswa yang pernah belajar dengan papan tulis sebelum datang ke Stanford.
Pandemi yang memaksa pembelajaran daring juga mempercepat hilangnya alat klasik ini. Namun, bagi para matematikawan Stanford, kapur dan papan tulis bukan sekadar alat, tetapi bagian integral dari seni mengajar yang efektif.
Mereka percaya, warisan pedagogis ini akan tetap menjadi bagian penting dari pendidikan matematika berkualitas di masa depan. (Red)