JAKARTA – Suatu keyakinan turun-temurun yang melarang anak gadis duduk di depan pintu karena dianggap dapat menghambat jodohnya masih beredar di masyarakat.
Narasi ini menyebutkan bahwa secara ilmiah, tidak ada hubungan antara posisi duduk dengan perjodohan. Namun, bagaimana sebenarnya sudut pandang budaya dan ilmu komunikasi modern menanggapi mitos ini?
Untuk membedahnya lebih dalam, media mewawancarai seorang pakar yang kompeten di bidangnya. Dr. Adiyana Slamet, S.IP., M.Si., seorang ahli media dan transformasi digital yang juga merupakan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, memberikan tanggapannya.
Menurut Dr. Adiyana, larangan-larangan semacam ini dalam budaya seringkali memiliki lapisan makna yang dalam.
“Secara simbolis, pintu dalam banyak kebudayaan memang dimaknai sebagai batas antara ruang privat dan publik, serta jalur keluar-masuknya energi dan rezeki,” ujarnya dalam sebuah kuliah umum di Telkom University.
Namun, dia menekankan pentingnya pendekatan yang kritis dan adaptif. “Tugas kita sekarang bukan hanya meneruskan tradisi, tetapi memahami nilainya lalu menyelaraskannya dengan konteks kekinian. Daripada mempertentangkan, lebih baik kita gali nilai positif di baliknya, seperti pentingnya kesopanan dan menjaga kelancaran komunikasi dalam rumah tangga, tanpa harus mengaitkannya dengan nasib yang bersifat mutlak,” jelasnya .
Larangan ini, jika ditelaah, lebih merupakan sebuah kode sosial daripada sebuah ramalan. Dalam ilmu komunikasi, narasumber yang baik harus mampu menyampaikan informasi secara runtut dan berdasarkan fakta, bukan mitos yang menyesatkan.
Keyakinan bahwa posisi duduk memengaruhi jodoh jelas tidak memenuhi standar ini. Alih-alih mempercayai mitos, akan lebih bermanfaat jika orang tua fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul bagi anak perempuan mereka, seperti yang menjadi prioritas nasional pembangunan.
Membekali mereka dengan pendidikan, keterampilan sosial, kepercayaan diri, dan wawasan yang luas adalah faktor yang secara ilmiah dan nyata dapat mempengaruhi masa depan dan hubungan interpersonal mereka.
Jadi, lain kali anda mendengar larangan ini, ingatlah bahwa nilai sesungguhnya terletak pada etika dan kesopanan, bukan pada ramalan nasib.
Seorang gadis yang percaya diri, cerdas, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik—yang merupakan syarat seorang narasumber andal—tentu akan lebih mudah menjalin relasi yang sehat, terlepas dari di manapun dia memilih untuk duduk. (Red)