“One As All”: Bar Unik di Beijing yang Gabungkan Koktail & Ramalan Tao untuk Generasi Z

Penelitian tambahan Lilian Yang

DIBALIK pintu masuk bar remang-remang di distrik Fengtai, Beijing, tergantung catatan tulisan tangan berisi harapan dan kegelisahan pelanggan “Pujianku… Bertemu dengan Tuan Sempurna… Menjadi kaya…”

Inilah One As All, salah satu bar peramal yang sedang tren di Tiongkok. Berlokasi di lantai 12 sebuah gedung komersial, tempat ini menawarkan lebih dari sekadar minuman (mulai 88 yuan—angka keberuntungan!).

Pengunjung bisa menikmati pemandangan kota sambil meramal nasib menggunakan qiuqian (tongkat lotre Tao), dipandu oleh peramal Gen Z seperti Derrex Deng.

Ramalan Ala Gen Z: Emoji & Kejujuran Tanpa Filter
Derrex, 20 tahun, dengan kuku bergambar kucing dan giok khas Gen Z, mengaku bisa melihat roh sejak kecil.

“Saya langsung to the point—makanya orang percaya,” katanya. Cara kerjanya sederhana: ajukan pertanyaan (misal: “Bagaimana meningkatkan komunikasi dengan keluarga di luar negeri?”), lalu tarik tongkat kayu. Jawabannya? “Pakai lebih banyak emoji!”

#EkonomiSpiritual Naik Daun Saat Resesi
Di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak anak muda beralih ke Xuanxue (mistisisme). Aplikasi astrologi Cece (didukung Tencent) sudah diunduh 100 juta kali! Seorang pengguna Weibo berkomentar: “Dulu orang jarang percaya ramalan, sekarang jadi tren.”

Pemilik One As All, Ma Xu menjelaskan minuman dan mistisisme sama-sama jadi pelarian dari tekanan hidup. Meski ekonomi lesu, Ma optimis orang tetap butuh hiburan—ngobrol sambil minum anggur lebih terjangkau daripada libur ke luar negeri.

#BudayaTionghoa Kembali Dikenang
Ramalan Barat seperti tarot kalah pamor dibanding Qiuqian. Tarot dari luar negeri, saya kurang percaya,” kata Ning Ning (37). Analis tren Yaling Jiang menambahkan, kebangkitan ramalan tradisional sejalan dengan kebanggaan generasi muda pada budaya lokal, seperti kesuksesan film Ne Zha 2 dan merek seperti Labubus.

Tantangan: Antara Spiritualitas & “Garis Merah” Pemerintah
Meski Taoisme dan Buddhisme umum di Tiongkok, otoritas kerap menindak “takhayul”. Ma mengaku berhati-hati: “Kami tidak memungut biaya untuk ramalan dan mengingatkan pelanggan agar tidak berlebihan,” ungkapnya.

Ramalan: Tren atau Solusi?
Bagi pengunjung seperti Dong Boya (29), kombinasi minum dan ramalan adalah hiburan yang pas di masa sulit. Tapi ketika ditanya “Cara cepat kaya?”, jawabannya justru satire: “Langgar hukum—atau kenal orang dalam!”

Kesimpulan
One As All mencerminkan fenomena unik: di era digital, generasi muda justru mencari jawaban dari tradisi kuno—sambil menikmati koktail. Apakah ini sekadar tren atau pertanda kebutuhan akan harapan di tengah ketidakpastian ?

Diterjemahkan oleh RedaksiKitaMedan.Com

#Beijing#BudayaTionghoa#EkonomiKreatif#GenZ#HiburanMalam#Konsumerisme#Ramalan#Spiritualitas#Taoisme#Tiongkok