Anak Muda Garda Terdepan! Bima Arya & Rico Waas Beberkan Strategi Jitu Bangun Kota Tangguh di YCC APEKSI 2026

MEDAN — Sorak semangat ratusan anak muda dari berbagai kota di Indonesia memenuhi ruang pertemuan Hotel Le Polonia, Medan. Mereka hadir dalam Sharing Session Youth City Changers (YCC) APEKSI 2026 sebuah ajang strategis yang menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan gagasan dan inovasi bagi masa depan perkotaan Indonesia.

Di hadapan para peserta, tiga narasumber utama hadir: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto.

Mereka berbagi pengalaman nyata menghadapi bencana serta strategi membangun resilient city kota yang tangguh bukan hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga kepemimpinan, kolaborasi, dan kesiapsiagaan masyarakat.

Banjir Terbesar Sepanjang Sejarah Medan

Rico Waas memulai paparan dengan kisah pilu yang masih membekas: banjir dahsyat 27 November 2025. Hujan deras selama tiga hari berturut-turut menyebabkan 19 dari 21 kecamatan di Medan terendam, dengan sekitar 85.000 warga terdampak dan 25.000 di antaranya mengungsi.

“Sepanjang sejarah, banjir tahun lalu menjadi yang terburuk di Kota Medan,” ujar Rico Waas di hadapan peserta.

Situasi mengajarkan betapa pentingnya koordinasi cepat. Ia langsung mengumpulkan Forkopimda, OPD, hingga para camat untuk memetakan wilayah terdampak. Namun tantangan terbesar justru bukan infrastruktur—melainkan kesiapan masyarakat.

“Banyak warga awalnya menolak dievakuasi karena mengira air akan segera surut. Ketika air naik drastis, barulah mereka meminta bantuan dalam kondisi yang sudah sangat berbahaya,” kenang Rico.

Pemko Medan bergerak cepat: mendirikan posko bencana, mengaktifkan Belanja Tidak Terduga (BTT), dan mengerahkan seluruh perangkat daerah. Namun banjir tidak berhenti ketika air surut.

Baca Juga : Jeritan Warga Karang Berombak: Trauma Banjir, LPJU Mati, dan Longsor, Rico Waas Turun Tangan Beri Solusi Instan

Persoalan baru muncul volume sampah melonjak drastis dari rata-rata 1.500–1.700 ton per hari menjadi 6.000–6.500 ton per hari. Kondisi itu memicu ancaman penyakit dan memperberat pemulihan.

Rico menegaskan, penanganan bencana tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Kolaborasi dengan relawan, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci percepatan pemulihan.

Berbeda dengan Medan yang baru-baru ini diuji, Banda Aceh memiliki pengalaman panjang tsunami 2004 menjadi guru paling keras bagi kota itu. Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal menyoroti pentingnya mitigasi sebelum bencana terjadi.

Banda Aceh kini memperkuat sistem deteksi dini, jalur evakuasi, rumah pompa, hingga edukasi kebencanaan berbasis keluarga dan sekolah.

“Kesiapsiagaan harus menjadi budaya. Masyarakat harus tahu apa yang dilakukan saat gempa, saat banjir, ke mana harus evakuasi, dan bagaimana melindungi diri,” tegas Illiza.

Ia menambahkan, ketangguhan kota tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga kemampuan fiskal dan kecepatan respons. Perubahan iklim dengan meningkatnya ketidakpastian cuaca menuntut kota-kota di Indonesia lebih responsif, adaptif, dan terintegrasi dalam penanganan risiko bencana.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto memberikan perspektif strategis yang menggugah. Menurutnya, setiap bencana selalu menjadi ujian besar terhadap lima hal: sistem, kebersamaan, kepemimpinan, komunikasi, dan data.

“Bencana adalah ujian bagi sistem. Kota yang sistemnya kuat akan pulih lebih cepat. Tapi kota dengan sistem lemah akan lebih lama bangkit,” tegas Bima.

Ia menambahkan, bencana juga menguji kualitas kepemimpinan. Dalam situasi krisis, masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir langsung di lapangan, bukan sekadar memberi instruksi dari balik meja.

Bima menyoroti kelemahan banyak kota di Indonesia: masih reaktif. “Banyak daerah baru bergerak saat bencana datang, bukan menyiapkan mitigasi sejak awal,” ujarnya. Ia mendorong pemerintah daerah lebih aktif menggandeng para ahli kebencanaan dan membangun budaya belajar dari pengalaman masa lalu.

Menutup sesi, para narasumber sepakat bahwa generasi muda memiliki peran sentral dalam membangun kota tangguh. Melalui inovasi, literasi kebencanaan, dan semangat kolaborasi, anak muda diharapkan menjadi motor perubahan.

“Kalau bangsa kita ingin kuat, maka kita harus saling bergotong royong. Anak muda adalah jawabannya,” tegas Rico Waas membakar semangat peserta.

Tema YCC 2026 Anak Muda Tangguh untuk Indonesia menjadi subtema dari Rakernas XVIII APEKSI yang mengusung tema besar “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat”. Tema ini lahir dari pengalaman pahit banjir 2025 yang melanda Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.

Youth City Changers bukan sekadar forum diskusi. Ini adalah platform vital untuk mendengarkan, melibatkan, dan mengintegrasikan aspirasi serta ide-ide inovatif kaum muda ke dalam agenda besar pembangunan perkotaan nasional. Dari Medan untuk Indonesia—semangat anak muda adalah kunci kota tangguh. (Rel)

#AnakMuda#BimaArya#IndonesiaTangguh#kitamedandotcom#KotaTangguh#MedanTangguh#PerubahanIklim#ResilientCity#RicoWaas#YCCAPEKSI2026