MEDAN — Medan Deli kembali berduka. Aksi begal bersenjata tajam di bawah jalan tol, Pasar 3, Kelurahan Mabar Hilir, Sabtu (19/9/2026) dini hari, menewaskan M Rehan (17).
Pelajar warga Lingkungan VIII, Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Medan Deli, itu mengalami luka robek di perut kiri setelah dibacok saat melintas menuju rumah. Nyawanya tak tertolong di rumah sakit.
Peristiwa ini bukan insiden tunggal. Dalam rentang waktu hampir berdekatan, Andi (37), pedagang ayam Pasar Metal, nyaris terkena celurit empat pria.
Motor Scoopy BK 6697 TCB hijau miliknya dibawa kabur. Iwan (52), Kepling XXII Tanjung Mulia, juga dikejar parang hingga kehilangan sepeda motor. Tiga kasus ini membentuk pola: pelaku berkelompok, bersenjata tajam, dan beraksi pada jam rawan.
Titik rawan yang disebut warga meliputi kawasan bawah tol Mabar Hilir, Jalan Perbatasan, serta jembatan penyeberangan Tanjung Mulia Hilir dan Tanjung Mulia.
Warga kini mempertanyakan keamanan ruas jalan itu, terutama pukul 23.00–05.00 WIB. Bagi mereka, begal bukan lagi soal kehilangan kendaraan, melainkan ancaman nyawa.
GRANAT DPD Sumatera Utara melalui Humas C Wijaya mendesak Polres Pelabuhan Belawan bergerak tegas.
“Polisi harus bertindak dengan tegas sehingga rasa aman dan kenyamanan dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya. GRANAT meminta pengungkapan kasus dan penangkapan pelaku menjadi prioritas, bukan sekadar laporan rutin.
GRANAT mengusulkan patroli skala besar terjadwal setiap malam, bukan hanya setelah kejadian. Penambahan pos keamanan, penguatan Siskamling, perbaikan lampu jalan, dan audit CCTV juga dinilai mendesak. “Banyak lampu jalan padam. CCTV di ujung jalan perlu dipastikan berfungsi,” kata C Wijaya.
Kematian M Rehan adalah alarm keras. Jika titik rawan, jam rawan, dan pola serangan sudah diketahui, respons kepolisian harus terukur: patroli presisi, penerangan memadai, CCTV aktif, dan keterlibatan warga.
Publik menunggu bukan janji, tetapi penangkapan pelaku dan pemulihan rasa aman di Medan Deli. Ini darurat. (FD)