Bobby Nasution Sorot Harga Avtur yang Bikin Maskapai Pilih Isi Bensin di Malaysia!

DELISERDANG – Di tengah euforia pembukaan rute penerbangan baru yang menghubungkan Bandara Internasional Kualanamu (KNO) dengan Bandara Jenderal Besar AH Nasution di Mandailing Natal (Madina), Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution justru melontarkan kritik tajam yang kembali mengguncang industri penerbangan nasional.

Sabtu (1/8/2026), di sela-sela peresmian penerbangan perdana Wings Air, Bobby dengan tegas menyoroti harga avtur di Kualanamu yang dinilai sebagai “penyakit kronis” yang menghambat pengembangan sektor aviasi di Sumatera Utara.

Bukan rahasia lagi jika Kualanamu adalah gerbang utama Indonesia bagian barat dengan potensi ekonomi yang luar biasa.

Namun, potensi itu terancam mandek lantaran harga avtur yang disebut-sebut sebagai salah satu yang termahal di Indonesia.

“Saya dengar ada maskapai yang memilih mengisi bahan bakar di bandara lain, bahkan sampai ke Malaysia, karena biaya avtur di Kualanamu masih tinggi. Ini masalah serius yang harus jadi perhatian bersama,” ujar Bobby dengan nada tegas.

Baca Juga : Wings Air Buka Rute Kualanamu–Madina: 80 Menit, Rp1,2 Juta, dan Revolusi Konektivitas Sumut!

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa harga avtur di Kualanamu sempat menyentuh angka Rp 14.500 per liter, sementara di Bandara Soekarno-Hatta hanya Rp 12.000 per liter.

Lebih parah lagi, di Kuala Lumpur, harga avtur hanya berkisar Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per liter. Bayangkan, selisih hingga Rp 5.000 per liter!

Dengan biaya avtur yang mencakup 40 persen dari total biaya operasional penerbangan, wajar jika maskapai berpikir ulang untuk mengisi penuh tangki pesawatnya di Kualanamu. Akibatnya, daya saing bandara yang dikelola Angkasa Pura Aviasi ini pun terus tergerus.

Bobby menegaskan bahwa persoalan ini bukan isu baru. Sejak menjabat sebagai Wali Kota Medan hingga kini sebagai Gubernur Sumut, ia berulang kali menyuarakan hal yang sama.

Ia berharap anggota DPR RI asal Sumatera Utara dapat ikut mendorong pemerintah pusat untuk menciptakan kebijakan harga avtur yang lebih kompetitif.

“Penyesuaian harga avtur akan berdampak langsung pada peningkatan aktivitas penerbangan, pembukaan rute-rute baru, serta pertumbuhan pariwisata dan ekonomi daerah,” tambahnya.

Meski di satu sisi Bobby mengkritik, di sisi lain ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Lion Group yang melalui Wings Air berani membuka rute Kualanamu-Mandailing Natal.

Rute baru yang dilayani tiga kali seminggu (Selasa, Kamis, dan Sabtu) ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh yang sebelumnya memakan waktu 4-5 jam melalui jalur darat menjadi hanya sekitar 1,5 jam via udara.

“Ini akan mempermudah mobilitas masyarakat dan membuka akses ekonomi bagi Kabupaten Mandailing Natal,” katanya.

Namun, tanpa solusi atas masalah avtur, langkah maju ini bisa menjadi sia-sia. Kualanamu berpotensi menjadi hub internasional kebanggaan Indonesia, tetapi harga avtur yang tidak bersahabat justru membuat pesawat-pesawat asing enggan mendarat.

Pertamina Patra Niaga sendiri mengklaim bahwa penetapan harga avtur telah sesuai regulasi dan formula nasional.

Namun, di tengah persaingan ketat dengan negara tetangga, sudah saatnya kebijakan dikaji ulang demi masa depan penerbangan Indonesia. Apalagi, meski sempat turun menjadi Rp 23.090 per liter per 1 Juni 2026, harga avtur di Kualanamu tercatat pernah melonjak hingga Rp 28.626 per liter.

Pertanyaannya kini, akankah pemerintah pusat mendengar seruan Bobby? Ataukah Sumatera Utara harus terus merelakan potensi emasnya terkikis oleh mahalnya harga avtur? (Rel)

#AvturKualanamu#BandaraKualanamu#bobbynasution#HargaAvtur#kitamedandotcom#KonektivitasSumut#Madina#PenerbanganPerdana#WingsAir