Dari Debu Jalanan ke Harapan Baru: Kisah Pengaspalan Jalan Nias Utara yang Dinanti Puluhan Tahun

NIAS UTARA – Debu beterbangan di sepanjang jalanan berlubang yang selama puluhan tahun menjadi pemandangan sehari-hari warga Kecamatan Lotu.

Kini, debu itu perlahan tergantikan oleh hamparan aspal hitam yang mulus. Di era kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution, mimpi masyarakat Nias Utara untuk menikmati jalan beraspal akhirnya menjadi kenyataan.

Proyek pengaspalan dua ruas jalan strategis—Lotu-Lahewa sepanjang 2,5 kilometer dan Lotu-Tuhemberuwa sepanjang 4 kilometer—mulai dikerjakan tahun 2026 dengan total anggaran lebih dari Rp44 miliar.

Ruas Lotu-Lahewa menghabiskan anggaran Rp17 miliar, sementara Lotu-Tuhemberuwa Rp27 miliar. Keduanya dibangun dengan konstruksi hotmix yang menjamin ketahanan jalan terhadap cuaca ekstrem dan beban lalu lintas berat.

Bagi Jaswin Gea, warga Desa Hilidunda, jalan ini bukan sekadar infrastruktur. “Jalan ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Kami sangat bersyukur karena akhirnya bisa diaspal. Ini menjadi kebahagiaan bagi masyarakat Nias Utara,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca dalam kegiatan Sapa Daerah (SADA) bersama Gubernur di Kecamatan Lotu, kemarin.

Selama puluhan tahun, ruas jalan yang menghubungkan Lotu dengan Lahewa dan Tuhemberuwa ini nyaris tak tersentuh pembangunan.

Baca Juga : Gubernur Perintahkan Kepala Daerah se-Kepulauan Nias Kebut Usulan BKP 2027! Dana Rp53 Miliar Mengalir, Ini Prioritasnya!

Kondisi rusak parah membuat aktivitas ekonomi tersendat—hasil pertanian dan perkebunan sulit diangkut ke pasar, biaya logistik melambung tinggi, dan akses masyarakat terhadap layanan publik menjadi terhambat. Kini, harapan baru menyelimuti Nias Utara.

Bobby Nasution menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur di Kepulauan Nias menjadi salah satu prioritas utama Pemprov Sumut.

Tahun 2026, alokasi anggaran untuk lima kabupaten/kota di Kepulauan Nias ditembuskan menjadi sekitar Rp500 miliar—melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp250–300 miliar.

“Kami datang dan berkantor di Kepulauan Nias untuk menyerap aspirasi masyarakat sekaligus memastikan program pembangunan berjalan sesuai kebutuhan daerah,” ujar Bobby.

Tak hanya jalan, Pemprov Sumut juga menganggarkan Rp2 miliar untuk pembangunan rumah produksi kelapa di Nias Utara guna meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan rakyat.

Namun, kebahagiaan warga belum lengkap. Tarmizi Gea, warga lainnya, berharap pembangunan jalan dapat dilanjutkan hingga seluruh ruas Lotu-Tuhemberuwa yang panjangnya mencapai sekitar 12 kilometer.

Masyarakat juga mengusulkan pembangunan drainase di sepanjang jalan untuk mencegah kerusakan akibat genangan air, serta irigasi, jalan usaha tani, bantuan alat pertanian, hingga dukungan rumah ibadah.

Menanggapi aspirasi tersebut, Bobby memastikan akan meninjau langsung kondisi di lapangan bersama OPD terkait.

“Untuk jalan tani dan kebutuhan lainnya nanti akan ditinjau langsung oleh OPD terkait. Kita lihat kondisinya di lapangan agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Bupati Nias Utara Amizaro Waruwu menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian Pemprov Sumut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur atas perhatian dan dukungannya. Harapan kami pembangunan di Nias Utara terus berlanjut sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” katanya.

Pengaspalan jalan Lotu-Lahewa dan Lotu-Tuhemberuwa bukan sekadar proyek fisik. Ini adalah simbol perubahan—bahwa daerah terpencil sekalipun tak luput dari perhatian pemerintah. Ini adalah bukti bahwa janji pembangunan yang merata mulai diwujudkan, satu ruas jalan pada satu waktu.

Dengan anggaran yang terus meningkat dan komitmen yang tak kenal lelah, Nias Utara perlahan bangkit dari keterisolasian. Jalanan yang dulu hanya menyisakan debu dan keputusasaan, kini membentang sebagai jalan menuju masa depan yang lebih cerah. (Rel)

#bobbynasution#HotmixNias#InfrastrukturSumut#JalanNiasUtara#kitamedandotcom#LotuLahewa#NiasBangkit#PembangunanNias#SapaDaerah