NIAS BARAT – Di balik hamparan biru Samudra Hindia yang memukau, Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memilih turun ke dermaga, bukan sekadar mendengar laporan dari balik meja.
Dalam agenda Sapa Daerah (SADA) yang berlangsung di RPJ Beach, Kecamatan Sirombu, Sabtu (18/7/2026) , Bobby membuktikan bahwa kepemimpinan publik adalah tentang hadir di tengah kesulitan rakyat.
Bobby yang hadir bersama Ketua TP PKK Sumut Kahiyang Ayu serta jajaran kepala OPD, langsung disambut derasnya aspirasi warga. Bukan sekadar seremonial, dialog ini melahirkan sejumlah keputusan konkret yang langsung membidik akar persoalan di kepulauan terluar Sumut.
Tokoh agama Nias Barat, Akhmad Rafi Zebua, menyampaikan bahwa Masjid Al Uswah di Sirombu bukan sekadar tempat ibadah. Masjid ini adalah saksi bisu sejarah perkembangan Islam di Nias Barat.
Sayangnya, bantuan rehabilitasi yang sempat masuk anggaran Pemprov Sumut batal direalisasikan karena dialihkan untuk penyelenggaraan PON.
Menanggapi hal ini, Bobby tidak memberi jawaban basa-basi. Ia justru menaikkan nilai bantuan. “Kalau Rp100 juta tidak bisa. Yang bisa Rp250 juta. Perbaiki proposalnya dan ajukan kembali,” tegasnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa Pemprov Sumut tidak hanya peduli pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pelestarian nilai sejarah dan spiritual masyarakat Nias Barat.
Nias Barat memiliki garis pantai sekitar 100 kilometer dengan ratusan nelayan yang menggantungkan hidup pada laut.
Namun, keterbatasan alat tangkap dan armada kapal masih menjadi momok. Akhmad Rafi’i Zebua, yang juga mewakili nelayan, meminta bantuan 400 set alat tangkap berbagai ukuran, termasuk jaring tenggiri (gillnet 2-4 inch) , serta kapal motor 5-10 GT.
Bobby merespons dengan gaya kepemimpinan yang langka: turun gunung menghitung harga. Ia bertanya langsung harga kapal Rp30 juta untuk 0,5 GT dan hingga Rp160 juta untuk 5 GT. Meskipun pengadaan kapal motor belum masuk APBD tahun ini, Bobby memastikan bantuan akan tetap diberikan.
“Nanti kita lihat, minimal 5 bisalah ya, Pak Kadis kalau uangnya nggak ada pakai uang pribadi saya juga boleh untuk tambah-tambah,” ujarnya. Bantuan dipastikan cair setelah Agustus 2026.
Selain itu, pembangunan pemecah ombak yang sangat dinanti nelayan akan dikoordinasikan dengan Kementerian Perhubungan karena merupakan kewenangan pemerintah pusat.
Masyarakat juga menyoroti potensi wisata Pulau Asu dan Pulau Inako di kawasan Kepulauan Hinako. Pulau Asu dikenal sebagai “The Paradise on Earth” dengan air laut biru tosca yang memukau, surga bagi pecinta surfing, diving, dan snorkeling.
Meskipun dalam rencana pembahasan bersama kepala daerah se-Kepulauan Nias, Nias Barat ditempatkan sebagai kawasan produksi, Bobby menegaskan bahwa potensi wisata tidak akan diabaikan.
“Nias Barat tetap akan berkembang. Pengembangan kawasan wisata akan dilakukan bertahap setelah kawasan prioritas lainnya berjalan,” janjinya.
Tak hanya sektor perikanan dan wisata, Bobby juga memastikan pembangunan jalan penghubung Kabupaten Nias Selatan-Nias Barat akan dimulai Agustus 2026.
Tahap awal ditargetkan sepanjang 2,3 kilometer dari Kecamatan Lolowau menuju Nias Barat. Total jalan rusak yang teridentifikasi mencapai 17 kilometer dan akan diperbaiki bertahap.
Warga pun menyambut gembira. Lestari Buulolo dari Kecamatan Lolowau mengungkapkan, “Kami terima kasih sekali kepada Pak Gubernur sudah mau membangun jalan ini. Apalagi beliau kan datang langsung ke lokasi melihat kondisinya” .
Ahmad Rafi Zebua, warga Sirombu, menyimpulkan harapan banyak orang. “Baru kali ini kami bisa berdiskusi langsung dengan gubernur dan langsung ada solusinya, tidak sebatas berbicara saja” .
Dari Masjid Al Uswah yang mendapat kucuran dana lebih besar, 400 set alat tangkap yang dipastikan cair, kapal 5-10 GT dari kantong pribadi gubernur, hingga jalan dan wisata yang mulai digarap Bobby Nasution menunjukkan bahwa gerak cepat bukan sekadar slogan, tapi komitmen yang dibayar dengan tind nyata.
Nias Barat kini menunggu. Dan rakyat percaya, janji itu akan ditepati. (Rel)