Medan Siaga Darurat: 53 Pasukan Khusus Dikerahkan Hadapi Ancaman “Banjir Kiriman” 12-13 Oktober

MEDAN – Kota Medan bukan hanya berjibaku dengan hujan lokal, tetapi juga ancaman “banjir kiriman” dari hulu. Belajar dari kelamnya banjir besar akhir tahun lalu, Wali Kota Medan, Rico Waas, tidak ingin lengah.

Menghadapi prediksi puncak musim hujan BMKG pada 12-13 Oktober 2026, instruksi tegas telah dikeluarkan: seluruh jajaran harus bergerak dengan mode siaga tempur.

Jika media lain mungkin hanya memberitakan imbauan, BPBD Kota Medan kali ini menunjukkan kartu asnya. Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari, memastikan pihaknya tidak hanya bersiap, tetapi sudah dalam posisi “standby” penuh.

Langkah ini menjadi krusial karena potensi hujan intensitas sedang-tinggi dapat memicu luapan sungai yang melintasi jantung kota.

Dari markas BPBD, 53 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) telah dikerahkan. Mereka bukan sekadar petugas biasa, melainkan pasukan terlatih yang siap merespons laporan warga dalam hitungan menit. Bukan hanya personel, armada tempur penanggulangan bencana juga dipastikan dalam kondisi prima.

“Perahu karet, tenda pengungsian, hingga kendaraan operasional yang mampu menembus medan sulit telah kami siagakan. Alat komunikasi khusus juga kami lengkapi agar koordinasi tidak pernah putus,” tegas Yunita Sari, Senin (12/10/2026).

Baca Juga : Banjir Haranggaol Sisakan Batu Besar di Sungai Siboro, Pemkab Simalungun Turun Tangan

Yang membedakan langkah Pemko Medan kali ini adalah pendekatan mitigasi yang menyeluruh. BPBD tidak hanya berfokus pada evakuasi saat bencana terjadi, tetapi juga gencar melakukan edukasi mitigasi di sekolah-sekolah yang berada di titik rawan banjir.

Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi tangguh bencana.

Namun, kekuatan terbesar ada di tangan warga. Yunita Sari memberikan panduan aksi kritis yang harus dilakukan setiap keluarga di Medan:

1. Perang terhadap Sampah

Ini adalah pertahanan pertama. Sampah yang menyumbat drainase adalah biang kerok utama genangan air. Jangan buang sampah sembarangan.

2. Jaringan Waspada Tetangga

Bangun sistem peringatan dini di tingkat RT/RW. Saling mengingatkan antar tetangga, terutama bagi yang tinggal di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS), adalah kunci.

3. Update Informasi Cuaca

Jadikan informasi BMKG sebagai alarm harian. Perubahan cuaca ekstrem bisa terjadi sangat cepat.

4. Protokol Evakuasi Mandiri

Ini yang paling penting. Jika debit air mulai naik, jangan menunggu. Segera evakuasi mandiri ke tempat aman. Siapkan Tas Siaga Bencana yang berisi dokumen penting (dalam plastik kedap air), obat-obatan pribadi, pakaian ganti, dan perlengkapan darurat lainnya.

Kesiapsiagaan Pemerintah Kota Medan sudah maksimal, namun keberhasilan mitigasi bencana adalah kerja kolaborasi.

Dengan 53 personel TRC yang siaga dan ribuan warga yang peduli lingkungan, Medan berpotensi besar meminimalisir dampak bencana. Tetap waspada, jaga kebersihan, dan jadilah bagian dari solusi, bukan korban. (HEN/Rel)

#BanjirMedan#CuacaEkstrem#InfoBMKG#kitamedandotcom#MedanSiaga#MitigasiBencana#walikotamedanBPBDKotaMedan