MEDAN – Siapa sangka, empat pulau kecil jadi sumber perdebatan panas antara Sumatera Utara dan Aceh? Dalam diskusi #Dongan (Diskusi Oke Ngobrol Gagasan Anak Medan) di Stadion Kebun Budaya, Jumat (12/6/2025), dua pakar mengungkap kunci penyelesaiannya yakni, pendekatan budaya!
Konflik atau Harmoni?
Muhammad Liputra, mahasiswa pascasarjana UI, mengingatkan bahwa sengketa maritim seperti ini rawan memicu ketegangan. “Pemerintah sudah tetapkan keempat pulau itu milik Sumut sejak 2008, tapi Aceh tetap keberatan,” jelasnya.
Namun, Liputra optimis. Sejarah membuktikan, hubungan Aceh-Sumut lebih harmonis dibanding daerah lain. Pasca tsunami 2004, warga Aceh bahkan lebih menerima pendatang dari Sumut,” ungkapnya.
Ancaman Disintegrasi?
Alwi Dahlan Ritonga, akademisi USU, menambahkan, polemik ini bisa jadi bumerang jika hanya diselesaikan lewat hukum. Perlu dialog budaya agar tidak memicu konflik horizontal.
Fakta Menarik:
– Keempat pulau tetap masuk Sumut setelah revisi pemerintah.
– Aceh dan Sumut punya kedekatan budaya yang kuat sejak lama.
– Pendekatan hukum saja dinilai kurang cukup untuk meredam ketegangan.
Solusi Kedepan:
Liputra menekankan, jangan biarkan perbedaan peta merusak kerukunan yang sudah dibangun puluhan tahun. Ia mengajak semua pihak fokus pada #PersatuanBangsa dan nilai-nilai kebersamaan.
Apa Kata Netizen?
Isu ini ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian warganet mendukung penyelesaian damai, sementara lainnya meminta kejelasan batas wilayah dari pemerintah pusat.
Polemik empat pulau ini menguji kedewasaan kedua daerah. Tapi, dengan modal sejarah dan budaya yang kuat, konflik tajam bisa dihindari. “Kita punya resepnya: kolaborasi, bukan konfrontasi,” pungkas Liputra. (FD)