MEDAN – Jalan Ahmad Yani di kawasan Kesawan tak lagi sekadar deretan bangunan tua berbisik sejarah. Lampu-lampu berkelap-kelip menerangi ribuan pasang kaki yang melangkah bebas tanpa hiruk-pikuk kendaraan.
Di sinilah, Car Free Night (CFN) Kesawan menjelma menjadi panggung baru kebangkitan ekonomi kreatif Kota Medan.
Sejak diluncurkan, CFN yang digelar dua minggu sekali setiap Sabtu malam ini telah membuktikan diri bukan sekadar ajang rekreasi.
Ia adalah mesin penggerak ekonomi rakyat yang nyata. Wali Kota Medan Rico Waas, dalam wawancara eksklusif dengan DAAI TV di rumah dinasnya, Jumat (21/8/2026), mengungkapkan bahwa peningkatan transaksi di setiap pelaksanaan menunjukkan potensi ekonomi yang terus tumbuh signifikan.
Bayangkan, dalam satu malam, lebih dari 160 pelaku UMKM dari berbagai sektor kuliner, kerajinan tangan, hingga fesyen mendapatkan ruang untuk bernapas dan berkembang.
Data dari Dinas Koperasi mencatat, dalam hitungan empat jam saja, omzet yang dihasilkan pelaku UMKM bisa menembus Rp 50 juta. “Ini mengartikan potensi ekonominya meningkat,” tegas Rico Waas.
Tapi CFN bukan sekadar pasar malam. Ini adalah ekosistem. Wali Kota yang akrab disapa Rico Waas ini merancang Kesawan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) 1 yang menghubungkan transportasi, signage, UMKM, hingga business matching. Sebuah paket lengkap yang mengubah wajah Kota Tua Medan.
Yang membedakan CFN dengan Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Minggu adalah jiwa-nya. Jika CFD didominasi olahraga dan gaya hidup sehat, CFN adalah pentas kebudayaan dan kreativitas.
Panggung-panggung disulap untuk menampilkan kebudayaan lokal, musik anak muda, beatbox, dance battle, hingga pertunjukan band yang menghentak.
Hasilnya? Pengunjung tak hanya datang dari Medan, tetapi juga dari Deli Serdang, Kisaran, Serdang Bedagai, hingga Tebing Tinggi. Kesawan mulai menjadi sentra aktivitas yang menarik di jantung Kota Medan.
Rico Waas menegaskan, aktivasi kawasan harus berjalan seiring pelestarian sejarah. Ia mencontohkan Pos Bloc gedung kantor pos bersejarah yang direvitalisasi tanpa menghilangkan esensi cagar budaya, justru menjadi rumah bagi UMKM dan komunitas kreatif.
“Revitalisasi harus menjaga cagar budaya, tetapi tetap membuka peluang untuk mengaktifkan fungsi ekonomi bangunan,” ujarnya.
“Konsep serupa akan diterapkan pada bangunan heritage lain di Kesawan. Pembangunan baru tidak boleh mengubah bentuk cagar budaya,” tegasnya.
Tak berhenti di CFN, Rico Waas mendorong UMKM lokal untuk tembus pasar internasional. Buktinya? Enam produk unggulan UMKM binaan Dekranasda Medan mulai dari kerajinan tangan Adelia Sparkling, tas anyaman Anyam Darung, hingga Minyak Karo Lauchi kini mejeng di etalase Uniqlo Delipark Mall.
“Ini tanda bahwa UMKM kita punya kesempatan besar untuk masuk ke pasar yang jauh lebih luas,” ujar Rico Waas. Pelatihan, inkubasi, dan ruang etalase terus disediakan agar pelaku usaha lokal bisa naik kelas. (Rel)