JAKARTA – Suasana Booth Pemerintah Kota (Pemkot) Medan di ajang Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2026 mendadak menjadi pusat perhatian.
Pasalnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, terlihat antusias mencoba langsung inovasi digital terbaru yang dipamerkan: QRESTO (Quick Response Electronic Splitting System for Tax Optimization).
Momen ini menjadi bukti nyata pengakuan nasional terhadap terobosan digital Pemkot Medan.
Keikutsertaan Pemkot Medan dalam Showcase Katalis Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD) di Jakarta International Convention Center (JICC), 24-26 September 2026, bukan sekadar formalitas.
Ini adalah panggung bagi Medan untuk menunjukkan kepada Indonesia bagaimana teknologi dapat menyelesaikan masalah klasik pemungutan pajak daerah.
QRESTO bukan sekadar aplikasi pembayaran. Ini adalah sistem cerdas yang mengubah cara Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) Makanan dan/atau Minuman dipungut.
Baca Juga : Transparan atau Gagal? Bapenda Medan Diuji Komisi Informasi, QRESTO Jadi Senjata Rahasia
Melalui mekanisme split payment berbasis QRIS, QRESTO secara otomatis memisahkan nilai transaksi untuk pelaku usaha dan komponen pajak daerah.
Bayangkan: Anda makan di restoran di Medan, membayar dengan QRIS, dan secara instan, pajak yang menjadi hak Pemkot Medan langsung masuk ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD), sementara pendapatan restoran langsung masuk ke rekening pemiliknya.
Tidak ada lagi keterlambatan, kebocoran, atau kerumitan administrasi. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) secara signifikan, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang lebih transparan dan efisien.
Delegasi Pemkot Medan yang dipimpin oleh Pj. Sekretaris Daerah Kota Medan, Erfin Fahrurrazi, bersama Kepala Bapenda M. Agha Novrian, dan perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara serta BUD Bank Sumut, tak menyangka respons Gubernur BI akan sepositif itu.
Ketika Destry Damayanti berhenti, mendengarkan penjelasan, lalu mengambil gawainya dan bertransaksi menggunakan QRESTO, sorot kamera dan perhatian pengunjung langsung terfokus.
“Saya apresiasi inovasi ini. Sangat aplikatif dan menjawab tantangan digitalisasi pajak daerah,” ujar Destry singkat saat mencoba sistem tersebut. Momen ini sontak menjadi talking point di antara para delegasi dari berbagai daerah.
Pemkot Medan memang bukan satu-satunya peserta showcase. Ada Provinsi NTT, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi DKI Jakarta, dan Kota Palu.
Namun, QRESTO berhasil mencuri perhatian karena solusinya yang spesifik dan terintegrasi langsung dengan sistem pembayaran nasional (QRIS).
Partisipasi Medan di FEKDI 2026 adalah bukti bahwa daerah bisa menjadi pionir dalam transformasi digital. QRESTO adalah jawaban atas tantangan otonomi daerah: bagaimana meningkatkan pendapatan tanpa membebani rakyat.
Dengan sistem ini, potensi kebocoran pajak restoran yang selama ini sulit diawasi dapat diminimalisir.
Keberhasilan ini bukan akhir, melainkan awal. Pemkot Medan berkomitmen untuk terus mengembangkan QRESTO ke sektor lain, seperti hiburan dan parkir.
Jika sukses, Medan tidak hanya menjadi contoh bagi kota lain di Indonesia, tetapi juga kandidat kuat untuk menjadi smart city sejati yang mengedepankan integritas fiskal dan kemudahan berusaha.
Momen Gubernur BI mencoba QRESTO akan dikenang sebagai titik balik digitalisasi pajak daerah di Indonesia. Medan telah berbicara, dan dunia mendengarkan. (Rel)