LOS ANGELES, SOFI STADIUM – sorak sorai 70.108 penonton menggema di stadion megah berkapasitas 100.000 kursi itu. Namun di balik gemerlap Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, tersimpan drama kelam yang menimpa Timnas Iran.
Bukan sekadar tentang strategi di atas lapangan, tetapi perjalanan hidup mati yang harus mereka tempuh hanya untuk bisa bertanding.
Bayangkan ini Anda adalah seorang atlet profesional di ajang paling prestisius dunia. Namun, alih-alih beristirahat nyaman di hotel bintang lima setelah bertanding selama 90 menit lebih.
Anda malah harus bergegas ke bandara, terbang selama 27 menit ke kota lain di negara tetangga, dan itu semua terjadi di tengah malam. Inilah realitas pahit yang dialami skuad Garuda Persia di Piala Dunia 2026.
Pemerintah AS, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, dengan tegas menolak melonggarkan pembatasan perjalanan super ketat terhadap tim sepak bola Iran selama turnamen berlangsung di Los Angeles dan Seattle.
Kebijakan ini memaksa Iran hanya diizinkan menginjakkan kaki di AS sehari sebelum pertandingan (H-1) dan harus langsung meninggalkan negara tersebut pada hari yang sama usai laga usai.
Ironi semakin terasa ketika dua hari setelah Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan kerangka kerja perdamaian yang bertujuan mengakhiri perang mereka, pembatasan perjalanan terhadap tim nasional Iran tetap tidak berubah.
Kesepakatan 14 poin yang ditandatangani Donald Trump di Versailles dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran itu sama sekali tidak menyebutkan tentang keringanan bagi warga Iran, termasuk para pesepak bola, untuk bergerak melalui imigrasi AS. Sepak bola ternyata tidak tercakup dalam kesepakatan damai.
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) pun angkat bicara. Mereka melayangkan surat keluhan resmi kepada FIFA, menuding pembatasan ini “tidak konsisten dengan prinsip penyediaan kondisi yang setara bagi semua tim yang berpartisipasi”. Sebuah tuntutan yang sepertinya akan menggema di lorong-lorong kekuasaan FIFA di Zurich.
Cerita ini berawal dari keputusan darurat Iran memindahkan base camp mereka dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko.
Langkah ini diambil setelah sekitar 15 pejabat dan staf pendukung tim, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj, ditolak visa masuk AS. Alasan AS? Adanya “informasi yang merugikan” (derogatory information) pada mereka dan larangan bagi siapa pun yang memiliki hubungan langsung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).
Hasilnya, timnas Iran yang seharusnya bisa beristirahat dan memulihkan kondisi di hotel California, harus rela bolak-balik Tijuana-Los Angeles dalam waktu 24 jam.
Mereka terbang ke AS sehari sebelum laga dan langsung kembali ke Meksiko usai pertandingan usai.
Pelatih Oran Amir Ghalenoei dengan lantang menyatakan bahwa timnya adalah “tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia”. “Presiden kami tidak ada di sini, media kami tidak ada di sini, banyak tim manajemen kami tidak ada di sini,” keluhnya.
Kapten tim, Mehdi Taremi, bahkan menggambarkan situasi ini sebagai “bencana”. Kegembiraan yang seharusnya dirasakan saat tampil di Piala Dunia telah “dirusak” oleh ketegangan politik yang menyelimuti partisipasi mereka.
Di sisi lain, Andrew Giuliani, Direktur Eksekutif Gugus Tugas Gedung Putih untuk turnamen Piala Dunia, dengan tegas membela kebijakan tersebut.
“Sejak awal, kami menyatakan dengan jelas bahwa prosedur ini akan berlaku,” ujarnya. Giuliani berdalih bahwa pemindahan base camp ke Tijuana justru menguntungkan Iran karena mempersingkat waktu perjalanan mereka ke Los Angeles.
“Penerbangan mereka satu jam lebih pendek daripada jika dari Tucson. Dan kami senang dengan jalannya pertandingan pertama di Los Angeles,” katanya. Ia juga menekankan bahwa semua pemain dan pelatih telah menerima visa, dan tujuan utama kebijakan ini adalah melindungi kepentingan AS serta pengunjung internasional.
Namun, ada secercah harapan. Giuliani menyebut situasi ini “dinamis” dan membuka pintu untuk “diskusi” mengenai pengaturan perjalanan untuk pertandingan ketiga Iran melawan Mesir di Seattle.
Mengingat penerbangan ke Seattle bisa memakan waktu hingga tiga jam, berbeda dengan 27 menit ke Los Angeles, perubahan mungkin akan terjadi. Presiden Trump sendiri disebut ingin menciptakan “keseimbangan kompetitif” di Piala Dunia.
Di tengah semua drama ini, Iran tetap menunjukkan perlawanan di atas lapangan. Mereka berhasil menahan imbang Selandia Baru 2-2 dalam pertandingan pembuka Grup G di hadapan 70.108 penonton, dengan Mohammad Mohebbi mencetak gol penyeimbang yang spektakuler.
Kini, semua mata tertuju pada laga melawan Belgia di SoFi Stadium, Senin (22/6) pukul 02.00 WIB.
Satu hal yang pasti: Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang siapa juara dunia. Ini juga tentang bagaimana politik, keamanan, dan kemanusiaan beradu di panggung terbesar sepak bola.
Dan Timnas Iran, dengan segala keterbatasannya, telah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, membuktikan bahwa semangat juang tidak bisa dibatasi oleh tembok atau kebijakan imigrasi. (FD)