Pesta Bola Rp5 Triliun! Kadin Beberkan Misteri di Balik Euforia Piala Dunia 2026

129

MEDAN – Piala Dunia 2026 bukan hanya ajang adu strategi di atas lapangan hijau. Di balik gemuruh suporter dan selebrasi para pemain, turnamen sepak bola terbesar sepanjang sejarah ini telah menjelma menjadi mesin penggerak ekonomi nasional yang luar biasa.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat, perputaran ekonomi langsung dan tidak langsung dari gelaran ini telah menembus angka fantastis lebih dari Rp5,03 triliun.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah bukti nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor mampu mengubah euforia olahraga menjadi keuntungan ekonomi yang dirasakan hingga pelosok Nusantara. Lalu, dari mana saja aliran dana sebesar itu mengalir?

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono, membeberkan rincian perputaran uang tersebut. Kontribusi terbesar datang dari tiga sektor utama:

1. Sektor Penyiaran dan Periklanan (On-Air): Aktivitas promosi berbagai produk melalui iklan selama siaran pertandingan menyumbang Rp1,76 triliun.
2. Kegiatan Komersial Off-Air: Berbagai kegiatan masyarakat di luar siaran, seperti sponsorship dan promosi produk, berkontribusi sebesar Rp850 miliar.
3. Sektor Horeka (Hotel, Restoran, Kafe) & Festival Rakyat: Ini adalah sektor yang paling terasa dampaknya oleh masyarakat.

Sektor Horeka menyumbang sekitar Rp2,4 triliun, ditambah dengan kontribusi dari berbagai kegiatan seperti Festival Rakyat 2026 yang digelar di berbagai daerah.

Namun, Kukrit menegaskan bahwa manfaatnya tidak berhenti di situ. “Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor,” ujarnya.

Efek Domino: Lebih dari Sekadar Perputaran Uang

Selain perputaran langsung sebesar Rp5,03 triliun, Kadin juga menyoroti adanya efek pengganda ekonomi (multiplier effect) yang signifikan.

Baca Juga : KADIN Sumut: Kelangkaan BBM Ancam Iklim Usaha Dan Stabilitas Ekonomi

Euforia Piala Dunia mendorong investasi pelaku usaha untuk membeli perangkat elektronik seperti televisi, proyektor, set-top box, hingga sistem audio. Tak hanya itu, banyak pengusaha kuliner yang menambah kapasitas tempat duduk dan fasilitas untuk menyambut lonjakan pelanggan saat nonton bareng.

Hal ini sejalan dengan data pertumbuhan ekonomi riil. Sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman tercatat tumbuh 13,14% secara tahunan pada Triwulan I-2026, menjadikannya salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi.

Publik sebagai Pilar Utama: Nonton Bareng dan UMKM

Meskipun iklan dan korporasi besar memainkan peran penting, denyut nadi ekonomi Piala Dunia 2026 sebenarnya terletak pada partisipasi masyarakat. Survei Lokadata terhadap 1.176 responden di 10 wilayah Indonesia pada 7-13 Juli 2026 mengungkapkan fakta menarik:

· 78,1% responden mengikuti kegiatan nonton bareng setidaknya satu kali selama turnamen.
· Rata-rata pengeluaran per orang mencapai Rp51 ribu per kegiatan nonton bareng, atau total Rp145 ribu selama satu turnamen penuh.

Uang tersebut sebagian besar digunakan untuk membeli makanan, minuman, paket data internet, dan kebutuhan pendukung lainnya. Inilah yang membuat manfaat ekonomi langsung dirasakan oleh para pelaku UMKM di sekitar lokasi nobar.

Kunci Sukses: Kolaborasi Tanpa Batas

Keberhasilan ini tidak terjadi begitu saja. Kukrit menekankan bahwa pencapaian ini adalah buah dari kolaborasi kuat antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penyiaran publik (seperti TVRI yang menyiarkan 104 pertandingan), pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tentunya masyarakat.

Sinergi ini membuktikan bahwa Indonesia mampu mengoptimalkan peluang dari ajang global untuk kesejahteraan bersama.

Piala Dunia 2026 telah usai, tetapi efek ekonominya akan terus terasa. Dari pengusaha elektronik hingga penjual bakso di pinggir jalan, semua merasakan getaran emas dari pesta bola terbesar di dunia ini. (Rel)