Diplomasi Panas Indonesia-Iran di Selat Hormuz: 3 WNI Hilang, Kapal Pertamina Terjepit Konflik!
JAKARTA – Memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) tancap gas melakukan negosiasi keras dengan otoritas Iran.
Targetnya satu memastikan kapal-kapal berbendera Merah Putih, termasuk armada strategis Pertamina, bisa tetap melintas aman di Selat Hormuz jalur laut paling vital sekaligus paling berbahaya di dunia saat ini.
Ya, Selat Hormuz bukan sekadar alur laut biasa. Celah strategis di antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini adalah “urat nadi” minyak dunia, tempat 20-30% pasokan minyak global melintas. Ketika ketegangan Iran-AS memanas, siapa pun yang melintas bisa terkena getahnya. Termasuk Indonesia.
“Push” Keras ke Teheran
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, membuka suara terkait manuver diplomatik intensif yang dilakukan pihaknya. Melalui Kedutaan Besar RI di Teheran, komunikasi terus digencarkan dengan Kementerian Luar Negeri Iran.
Fokusnya tak main-main jaminan keamanan untuk kapal-kapal RI, terutama dua unit milik Pertamina, yaitu Kapal Pride dan Gamsunoro, yang saat ini beroperasi di kawasan rawan tersebut.
“Kita terus melakukan pendekatan diplomatik yang intens dengan otoritas Iran guna memastikan kapal kita dapat melewati Selat Hormuz dengan aman. Kita akan terus push karena ini merupakan isu yang sangat krusial untuk kita,” tegas Yvonne dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Senada dengan Yvonne, Juru Bicara Kemlu Negeri lainnya, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menekankan posisi Indonesia yang tidak tinggal diam.
Pemerintah mendorong deeskalasi konflik secara menyeluruh. Sebab, jika jalur ini tersumbat, efeknya bukan hanya ke satu negara, tapi bakal mengguncang rantai pasok global.
“Indonesia melihat bahwa akses untuk transportasi laut ini penting bagi seluruh dunia. Artinya di sini kita melihat dengan kondisi yang terjadi di Timur Tengah, banyak efek yang luas yang dialami oleh berbagai negara, dan kita berharap mendorong agar solusi dilakukan secara damai,” tegas Nabyl.
Tragedi di Tengah Ketegangan: 3 ABK Masih Hilang
Di balik upaya diplomatik tersebut, ada kabar duka yang masih menyisakan tanya. Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, memberikan update terbaru mengenai nasib tiga Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi kru kapal dan dilaporkan hilang di kawasan Selat Hormuz.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih berlangsung habis-habisan. Otoritas setempat disebut tak kenal lelah melakukan penyisiran selama 24 jam penuh.
“Otoritas setempat masih terus melakukan pencarian selama 24 jam. Mereka tidak akan berhenti sampai pihak pemerintah setempat menyatakan pencarian dihentikan secara resmi,” jelas Heni.
Namun, hingga saat ini Pemerintah Indonesia mengaku belum menerima laporan resmi terkait penyebab pasti insiden yang menimpa kapal tersebut.
Apakah murni kecelakaan teknis atau terdampak eskalasi konflik, masih menjadi misteri yang terus didalami. Heni juga mengonfirmasi bahwa belum ada laporan tambahan mengenai WNI lain yang terjebak di wilayah tersebut selain ketiga kru yang masih dalam pencarian.
“So far masih belum ada lagi laporan apakah ada WNI kita yang terjebak di Selat Hormuz,” pungkasnya.
Situasi di Selat Hormuz saat ini bagaikan berjalan di atas tali. Di satu sisi, Indonesia harus menjaga aset bangsanya tetap berlayar.
Di sisi lain, nyawa anak bangsa menjadi taruhan. Dunia menanti langkah diplomasi Indonesia selanjutnya. (FD)