Pakar Ungkap Trump Kehilangan Kendali: Serangan ke Pulau Minyak Iran Bukti Keputusasaan AS

181

JAKARTA – Di tengah eskalasi konflik yang semakin membara di Timur Tengah, seorang pakar ilmu politik terkemuka Amerika Serikat melontarkan analisis mengejutkan.

Profesor Robert Pape dari Universitas Chicago, seorang ahli strategi keamanan dan politik internasional, menilai bahwa Presiden Donald Trump sejatinya telah berada di ujung tanduk putus asa dalam menghadapi perlawanan sengit dari Iran.

Momen kepanikan geopolitik ini, menurut Pape, terlihat jelas dari langkah militer Washington yang terkesan gegabah. Serangan udara AS ke jantung infrastruktur minyak Iran, tepatnya di Pulau Kharg, disebut sebagai cerminan nyata dari upaya putus asa seorang panglima perang yang kehilangan peta kendali.

“Sulit untuk membaca pikiran manusia, apalagi pikiran Donald Trump yang penuh teka-teki. Namun, saya menangkap sinyal yang kuat: apa yang ia coba lakukan saat ini adalah meraih kembali kendali atas situasi yang sebenarnya sudah lepas dari genggamannya, jam ke jam, hari demi hari,” ujar Pape dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, kemarin.

Pulau Kharg: Jantung Ekspor Minyak Iran yang Jadi Sasaran

Mengapa serangan ke Pulau Kharg menjadi indikator kepanikan? Pulau strategis ini bukan sekadar daratan biasa. Kharg adalah pusat saraf ekspor minyak Iran, memproses 90 persen dari total pengiriman minyak mentah negara tersebut.

Baca Juga : Duel Superpower di Langit Timur Tengah: China-Rusia Gotong Royong Bikin AS dan Israel Kewalahan

Dengan kapasitas pengelolaan mencapai 950 juta barel per tahun, menyerang Kharg berarti menyerang sumber kehidupan ekonomi Teheran.

Namun, serangan brutal ini justru membuka kelemahan strategi Washington. Pape menjelaskan bahwa rencana awal AS sebenarnya hanya menghitung eskalasi dalam hitungan hari sebuah blitzkrieg modern untuk melumpuhkan lawan.

Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Target-target strategis tak kunjung tercapai, tekanan militer AS dan Israel terus membesar, namun ironisnya, serangan balasan dari Teheran tak pernah surut.

Bahkan, intensitasnya meningkat, menunjukkan daya tahan yang tidak pernah diperhitungkan oleh intelijen Barat.

Mimpi Buruk “Rumah Kartu” yang Tak Kunjung Runtuh

Ambisi utama aliansi AS-Israel dalam gelombang serangan terbaru ini sangat jelas meruntuhkan rezim ulama di Teheran sekaligus menghancurkan program nuklir dan rudal balistik Iran yang selama ini menjadi momok. Namun, Pape menyoroti kegagalan besar dalam kalkulasi perang Gedung Putih.

“Trump berpikir ia akan menyaksikan perubahan rezim dalam sekejap. Ia membayangkan kepemimpinan Iran akan ambruk seperti rumah kartu remi rapuh dan tanpa perlawanan. Namun pernyataan terbaru dari lingkaran dalamnya justru menunjukkan keterkejutan: mereka tidak runtuh,” tegas Pape.

Memang, serangan bertubi-tubi aliansi Barat sempat menewaskan tokoh kunci, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi pertahanan Iran.

Dalam logika perang konvensional, pukulan sebesar itu seharusnya melumpuhkan. Namun Iran membuktikan diri sebagai entitas dengan sistem politik yang matang dan kepemimpinan kolektif yang tidak mudah digoyahkan.

Mekanisme Kuasa yang Kebal Guncangan

Di saat krisis terbesar menerpa, Iran justru menunjukkan kedewasaan politiknya. Mereka memiliki mekanisme suksesi yang jelas dan mengakar. Tak lama setelah wafatnya Khamenei, Dewan Pemerintahan Sementara segera dibentuk untuk mengisi kekosongan eksekutif.

Paralel dengan itu, Majelis Ahli (Majelis Pakar) lembaga yang terdiri dari 88 ulama terpilih yang telah melewati seleksi ketat Dewan Wali langsung bergerak untuk menyiapkan pemimpin tertinggi baru.

Fenomena ini menjadi tamparan telak bagi narasi kepanikan yang dibangun media Barat. Alih-alih kacau balau, Iran justru bergerak dalam koridor konstitusi yang kokoh.

Inilah yang luput dari radar intelijen AS sebuah negara dengan “sistem imun” politik yang kuat, mampu bertahan dan beregenerasi meskipun kepalanya dipenggal.

Analisis Robert Pape ini membuka tabir baru: perang ini bukan lagi soal siapa yang menyerang lebih keras, tapi siapa yang lebih tahan banting.

Dan saat ini, Trump dan jenderalnya justru terlihat seperti petinju yang kehabisan napas, masih melayangkan pukulan, tapi tanpa arah dan tanpa kemampuan menjatuhkan lawan. (FD)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com