Terungkap! Motif “Sakit Hati” dan “Faktor Ekonomi” di Balik Pembakaran Rumah Hakim Medan

97

MEDAN – Aksi kriminal yang didalangi oleh sopir pribadi sendiri mengguncang kalangan hakim di Medan. Fahrul Aziz Siregar (35), sopir Hakim Khamazaro Waruwu, nekat merampok dan membakar rumah majikannya. Motifnya berawal dari rasa “sakit hati” yang berbaur dengan desakan “faktor ekonomi”.

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, dalam konferensi pers di Aula Bhayangkara, Jumat (21/11/2025), membeberkan aksi premeditated (terencana) ini. Tersangka Fahrul disebut telah menyusun rencana sejak 30 Oktober 2025, dengan memanfaatkan informasi dari orang dalam, Holoan Hamonangan Simamora, yang dekat dengan sang hakim.

Aksi Berdarah Dingin dan Perencanaan Matang
Pada 4 November 2025, Fahrul yang mengetahui rumah kosong, beraksi dengan penuh perhitungan. Ia membeli bensin eceran di Deli Tua, lalu menyempatkan diri singgah ke Pengadilan Negeri Medan. Dengan dingin, ia memesan kopi di kantin sambil memastikan bahwa Hakim Khamazaro sedang berada di kantor.

Setelah yakin, pria bertubuh tambun itu langsung menuju rumah di Jalan Pasar 2, Kompleks Taman Harapan Indah. Dengan mengetahui kunci rumah tersimpan di rak sepatu, Fahrul leluasa masuk dan menggasak perhiasan korban senilai ratusan juta rupiah.

Tak puas merampok, ia kemudian membakar lemari pakaian dan menyiram bensin ke meja hias serta tempat tidur sebelum melarikan diri.

Motif Ganda: Dendam Kesumat dan Tekanan Ekonomi
Polisi mengungkapkan motif utama Fahrul adalah “sakit hati” karena ia telah “tiga sampai empat kali keluar masuk kerja” dari pekerjaannya sebagai sopir. Namun, saat diwawancara dengan tangan diborgol, Fahrul mengungkap sisi lain.

“Sakit hati aku,” ujarnya singkat. Ketika didesak, ia mengaku aksinya juga dilatarbelakangi oleh “faktor ekonomi”. Pengakuan ini mengisyaratkan alasan yang lebih kompleks di balik dendamnya, yang berujung pada aksi pembalasan yang terstruktur.

Barang rampasan berupa emas berhasil dijual oleh para tersangka di sebuah toko emas di kawasan Simpang Limun. Pasca kejadian, Fahrul juga kerap menghubungi kaki tangannya, Hamonangan, untuk memantau perkembangan penyelidikan.

Kasus ini menyoroti kerentanan hubungan kerja dan bahaya yang mengintai ketika rasa tidak puas berubah menjadi dendam yang menghancurkan. (FD)

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com