MEDAN — Dalam era digital dan semakin terbukanya diskusi seputar kesehatan mental dan hubungan sosial, istilah “greenflag” kian populer di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Jika “redflag” mengacu pada tanda-tanda peringatan dalam suatu hubungan, maka “greenflag” justru merupakan indikator positif yang menunjukkan hubungan sehat dan saling mendukung.
Greenflag adalah perilaku, sikap, atau kebiasaan yang menunjukkan bahwa seseorang merupakan pasangan, teman, atau anggota keluarga yang sehat secara emosional. Contohnya termasuk kemampuan mendengarkan dengan empati, menghargai batasan, komunikasi yang terbuka, dan dukungan tanpa syarat.
Istilah ini banyak digunakan dalam konteks hubungan romantis, tetapi juga relevan dalam hubungan keluarga, pertemanan, hingga lingkungan kerja.
Dalam keluarga, greenflag dapat terlihat dari kebiasaan saling menghargai, mendukung satu sama lain, dan menciptakan suasana rumah yang aman secara emosional.
Anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan banyak greenflag cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dan kemampuan sosial yang lebih baik.
Di lingkungan sosial, kehadiran orang-orang yang menunjukkan greenflag bisa menciptakan hubungan yang harmonis dan saling menguatkan. Misalnya, teman yang tidak menghakimi saat kita bercerita, atau rekan kerja yang mau bekerja sama tanpa bersaing secara tidak sehat.
Psikolog keluarga menyarankan agar setiap individu mulai mengenali greenflag dalam diri sendiri dan orang lain, serta berusaha menumbuhkannya dalam interaksi sehari-hari. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan mendukung kesejahteraan mental.
“Bukan hanya menghindari redflag, kita juga harus belajar mencari dan menjadi greenflag bagi orang lain,” ujar Meri Sofyan Ahmad, psikolog klinis dari Medan
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya hubungan sehat, diharapkan masyarakat semakin cermat dalam membangun interaksi yang penuh penghargaan, pengertian, dan kasih sayang—baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial.(EL)