MEDAN – Saat anak mulai beranjak remaja, perasaan suka terhadap seseorang bukanlah hal yang aneh. Namun, bagi orang tua, momen ini bisa menjadi kejutan tersendiri. Ada yang menganggapnya sebagai fase alami, ada pula yang merasa khawatir jika hal itu mengganggu fokus anak dalam belajar.
Sebagian orang tua memilih untuk bersikap santai. Mereka menganggap perasaan tersebut sebagai bagian dari tumbuh dewasa dan membiarkan anak mengalaminya tanpa banyak intervensi. Beberapa bahkan merasa gemas dan mengingat kembali masa muda mereka sendiri. Namun, ada pula yang lebih waspada dan ingin memastikan anaknya tetap berada dalam batas yang wajar.
Tidak sedikit orang tua yang mencoba menggali cerita dari anak mereka, berharap bisa menjadi tempat curhat yang nyaman. Dengan pendekatan yang terbuka, mereka ingin anak merasa didukung tanpa perlu takut dihakimi. Namun, ada juga yang memilih untuk mengingatkan dengan tegas agar perasaan itu tidak sampai mengganggu kewajiban utama, seperti sekolah dan tanggung jawab lainnya.
Di era digital, perhatian orang tua semakin besar terhadap bagaimana anak berinteraksi dengan orang yang mereka sukai. Media sosial dan pesan instan membuat komunikasi lebih mudah, tetapi juga menimbulkan tantangan baru. Beberapa orang tua menetapkan batasan waktu penggunaan gadget atau mengajarkan anak untuk tetap menjaga privasi dan menghormati batasan dalam berkomunikasi.
Pada akhirnya, setiap orang tua memiliki cara sendiri dalam menghadapi situasi ini. Ada yang mendukung dengan penuh pengertian, ada yang menetapkan aturan, dan ada yang menggabungkan keduanya. Namun, satu hal yang pasti, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak menjadi kunci agar mereka bisa melalui fase ini dengan bijak.(EL)