Bunda PAUD Bukan Sekadar Selempang: Rico Tegaskan Gerakan Nyata Masa Depan Anak
MEDAN — Selempang dan pin telah disematkan. Naskah pengukuhan telah ditandatangani. Namun bagi Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, semua itu hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang.
Jabatan Bunda PAUD, tegasnya, bukanlah sekadar simbol atau status kebanggaan semata melainkan amanah besar untuk membangun fondasi generasi penerus bangsa.
Dalam sebuah seremoni yang berlangsung khidmat di Gedung Serbaguna TP PKK Medan, Senin (24/8/2026), Rico Waas yang juga bertindak sebagai Pembina Pokja Bunda PAUD Kota Medan secara resmi melantik istrinya, Airin Rico Waas, sebagai Bunda PAUD Medan.
Pelantikan yang disaksikan Wakil Wali Kota H. Zakiyuddin Harahap dan Pj. Sekda Erfin Fahrurrazi ini bukan sekadar pergantian estafet kepemimpinan, melainkan momentum untuk merevolusi cara pandang kita terhadap pendidikan anak usia dini.
“Masa 0 hingga 6 tahun adalah fase kritis. Di sinilah fondasi karakter dan kecerdasan anak dibentuk. Kalau fondasinya tidak kuat, ke depannya akan sulit membangun,” ujar Rico Waas dengan penuh penekanan.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Data ilmiah menunjukkan bahwa 80 persen perkembangan otak anak terjadi pada usia dini.
Setiap kata yang didengar, setiap pemandangan yang dilihat, dan setiap sentuhan yang dirasakan akan terekam dalam sistem memori anak dan membentuk karakternya di masa depan.
“Anak-anak itu memiliki sistem memori yang kadang-kadang kita tidak bisa pahami. Apa yang dia lihat, dia bisa serap. Dia bisa lihat, dia bisa rasakan dan itu membentuk karakternya,” ungkap Rico Waas mengingatkan.
Salah satu sorotan utama dalam arahannya adalah pentingnya menciptakan lingkungan rumah yang aman dan sehat. Rico Waas secara khusus meminta para orang tua untuk memastikan tontonan yang dikonsumsi anak sesuai dengan usianya, serta menciptakan suasana keluarga yang bebas dari kekerasan dan komunikasi kasar.
“Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak mereka. Kesibukan pekerjaan jangan sampai membuat anak kehilangan pendampingan di masa emas pertumbuhannya,” tegasnya.
Pola pengasuhan yang tepat, tambahnya, harus diimbangi dengan ruang bagi anak untuk bermain sambil belajar—sebuah metode yang terbukti mendukung perkembangan mentalitas dan otak anak secara optimal.
Rico Waas juga menyoroti aspek gizi yang kerap terlupakan. Ia meminta perhatian serius terhadap makanan yang dikonsumsi anak-anak, termasuk mengantisipasi maraknya jajanan tidak sehat di sekitar lingkungan sekolah dan rumah.
“Pemenuhan gizi yang baik sejak usia dini sangat penting untuk mendukung daya tahan tubuh, tumbuh kembang, dan perkembangan otak anak,” jelasnya.
Tak hanya itu, Bunda PAUD juga diminta peka terhadap berbagai persoalan sosial yang menyangkut anak mulai dari anak yang dipekerjakan, kurang mendapat perhatian, tidak memperoleh pembelajaran yang baik, mengalami persoalan gizi, hingga yang belum mendapatkan imunisasi.
Pesan paling mengesankan dari Rico Waas adalah seruannya agar para Bunda PAUD tidak berhenti pada seremoni.
“Jangan selempang hanya ditempelkan di badan saja, tapi lakukan gerakan. Turun ke lapangan, periksa bagaimana PAUD-PAUD kita. Mari kita semuanya bertanggung jawab untuk pendidikan anak usia dini kita,” tegasnya dengan lantang.
Inilah yang membedakan kepemimpinan Bunda PAUD di era baru ini—bukan sekadar menghadiri acara seremonial, tetapi benar-benar hadir di tengah masyarakat, melihat kondisi riil, dan merasakan langsung kebutuhan anak-anak di lapangan.
Bunda PAUD kecamatan bersama kelurahan diharapkan menjadi ujung tombak sosialisasi dan pendampingan di tengah masyarakat.Program yang disusun pun harus menyesuaikan kebutuhan masing-masing wilayah, sehingga kebijakan dari tingkat kota dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Menerima amanah sebagai Bunda PAUD Medan, Airin Rico Waas menyatakan bahwa ini bukan hanya kehormatan, tetapi tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.Ia berkomitmen mendorong peningkatan mutu dan perluasan akses layanan PAUD, sekaligus memperkuat perhatian terhadap pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, kesejahteraan, dan perlindungan anak.
Airin menekankan pentingnya sinergi dengan berbagai pihak. Koordinasi, pendampingan, pengawasan, dan evaluasi bersama Bunda PAUD kecamatan akan diperkuat, termasuk menjalin kerja sama dengan lembaga dan organisasi terkait untuk mendukung penyelenggaraan PAUD di Kota Medan.
Komitmen ini selaras dengan langkah nyata yang telah diambilnya. Beberapa hari sebelum pelantikan, tepatnya Kamis (20/8/2026), Airin menerima kunjungan tim Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dalam rangka pendampingan implementasi strategi Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah.Dalam pertemuan tersebut, ia mendorong penguatan kolaborasi lintas perangkat daerah untuk mempercepat implementasi program nasional tersebut.
—
Pengurus Pokja Bunda PAUD Medan yang Baru
Pada kesempatan yang sama, Rico Waas juga melantik pengurus Pokja Bunda PAUD Medan periode baru.
Kepengurusan dipimpin oleh Ismail Marzuki Siregar sebagai Ketua, didampingi Martinijal Zakiyuddin Harahap sebagai Wakil Ketua.
Yuana Benny Iskandar menjabat sebagai Sekretaris dengan Fahriatun Nisa Erfin Fahrurrazi sebagai Wakil Sekretaris. Sementara itu, posisi Bendahara dipegang oleh Angela Agha Novrian dan Reni Khirul Azmi sebagai Wakil Bendahara. Pengurus juga dilengkapi dengan bidang pendidikan, kesehatan, serta hukum, humas, dan sosial. (Rel)