Badai Puting Beliung di Medan Johor: 150 Rumah Rusak, Lansia Terluka, Dapur Umum Disiagakan!
MEDAN — Malam Selasa (18/8/2026) yang seharusnya tenang berubah mencekam bagi ribuan warga Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.
Hujan deras yang turun sejak pukul 19.00 WIB tiba-tiba disertai angin puting beliung yang mengamuk, menerbangkan atap-atap rumah bagaikan kertas dan merobohkan puluhan bangunan dalam hitungan menit.
Bencana ini melanda dua kelurahan sekaligus, yakni Kelurahan Titi Kuning dan Kelurahan Suka Maju. Data terkini dari Pemerintah Kecamatan Medan Johor mencatat, sedikitnya 150 unit rumah yang dihuni oleh 150 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Jumlah ini meningkat signifikan dari data awal yang hanya mencatat 120 rumah.
Kapolrestabes Medan, Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, mengungkapkan bahwa data ini masih bersifat dinamis dan berpotensi bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan di lapangan.
“Setelah kami pendataan bersama Forkopimcam, sampai dengan saat ini ada 150 rumah yang terdampak,” ujarnya di lokasi kejadian, Rabu (19/8/2026).
Rincian kerusakan materil cukup memprihatinkan:
· Rumah Rusak Berat: 2 unit (bangunan semi permanen yang rata dengan tanah)
· Rumah Rusak Sedang: 17 unit (plafon ambruk, genteng beterbangan)
· Rumah Rusak Ringan: 121 unit (kaca pecah, atap rusak)
· Fasilitas Umum: 1 unit (atap SDN 067774 rusak ringan)
Kerusakan paling parah terjadi di Kelurahan Suka Maju, dengan 90 rumah terdampak, sementara Kelurahan Titi Kuning mencatat 30 rumah rusak. Puluhan warung dan bangunan semi permanen lainnya juga rata dengan tanah.
Salah satu saksi mata, Masrul Sihombing, menceritakan detik-detik mencekam saat badai melanda.
“Pertama petir dulu, enggak lama hujan terus datang angin,” ujarnya. Sekitar 15 menit setelah hujan turun, angin bertiup begitu kencang hingga ia menyaksikan langsung pusaran angin membawa lembaran seng atap rumah warga beterbangan. “Berputar-putar anginnya bawa atap seng rumah orang,” ujarnya dengan ngeri.
Di lokasi berbeda, Radot Napitupulu (35) bersama istrinya yang tengah hamil tua nyaris terjebak di dapur rumah saat badai menerjang. Rumahnya mengalami kerusakan cukup parah tembok dapur roboh dan atap rumahnya terbang dibawa angin.
“Mulai dari menjelang magrib itu angin sudah langsung terlihat kencang,” ungkapnya.
Camat Medan Johor, Bachtiar Rivai Nasution, mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Namun, seorang warga lansia laki-laki berusia 71 tahun mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa kayu broti rumahnya yang ambruk. Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Sejati dan kini telah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.
Pemerintah Kecamatan Medan Johor bersama BPBD Kota Medan, Satbrimob Polda Sumut, dan PDAM Cabang Deli Tua bergerak cepat melakukan penanganan darurat.
Sebanyak tiga unit tenda pengungsian utama telah didirikan, didukung satu unit mobil dapur umum dari Satbrimob serta satu unit mobil tangki air bersih dari PDAM.
Dansat Brimob Polda Sumut, Kombes M Rendra Salipu, mengerahkan empat unit kendaraan ke lokasi: dua mobil dapur lapangan, satu mobil water treatment, dan satu mobil pendukung.
Setiap kendaraan dapur lapangan mampu memasak sekitar 400 porsi makanan.
“Mulai sore ini kita akan siapkan makan untuk masyarakat. Mudah-mudahan cepat pulih. Kita usahakan secepatnya pulih, 2 hari ke depan kita akan bantu,” tegasnya.
Bantuan logistik berupa makanan siap saji telah disalurkan secara bertahap: 300 bungkus untuk makan malam, 400 bungkus untuk makan pagi, dan 375 bungkus untuk makan siang.
Peristiwa ini bukanlah kasus terisolasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan mencatat bahwa cuaca ekstrem ini melanda setidaknya delapan kecamatan di Kota Medan, termasuk Medan Sunggal, Medan Denai, Medan Amplas, Medan Barat, Medan Perjuangan, Medan Timur, dan Medan Helvetia.
Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari, mengungkapkan bahwa jumlah rumah terdampak meningkat sekitar sepuluh kali lipat dari data awal yang diterima.
BMKG Wilayah I Medan juga memperingatkan bahwa Kota Medan masih berpotensi dilanda angin kencang dalam beberapa hari ke depan.
“Kami imbau masyarakat tetap waspada karena dalam beberapa hari ke depan masih berpeluang terjadi hujan lebat yang disertai angin kencang,” papar Yunita.
Menariknya, meski tenda pengungsian telah disediakan, mayoritas warga memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka meskipun dalam kondisi rusak.
Camat Bachtiar menyebutkan, mereka ingin menjaga barang-barang berharga dan sebagian besar rumah hanya mengalami kerusakan atap, bukan bangunan utama.
“Banyak warga sekitar ini yang lebih memilih bertempat tinggal di rumahnya. Dan kami selalu imbau agar manakala ada warga yang disabilitas, lansia, perempuan, anak-anak, agar dialihkan ke pengungsian saja,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses pendataan dan penanganan di lokasi pengungsian dipastikan berjalan aman dan kondusif. Warga pun mulai bergotong royong memperbaiki rumah mereka sendiri memasang seng kembali dan membersihkan material bangunan yang berserakan. (FD)