Prabowo Rombak Kabinet Merah Putih: Fenomena “Cross-Posting” Elite, Bahlil Rangkap Jabatan, Listyo ke KSP

405

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto melantik pejabat baru Kabinet Merah Putih menjelang dua tahun pemerintahan. Satu upacara, banyak sinyal rotasi elite, konsolidasi kementerian, dan rangkap jabatan langka.

“Bersediakah saudara-saudara diambil sumpah dan janji sesuai agama masing-masing?” tanya Prabowo. Serentak para pejabat menjawab “bersedia”.

Sorotan utama: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjadi Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Sugiono naik dari Menlu menjadi Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Kursi Menlu diisi Wamen Luar Negeri Armananta Nasir. Kepala KSP Dudung Abdurachman bergeser ke Menko Politik dan Keamanan. Tiga pos kunci ini seperti “cross-posting” elite: KSP, Menlu, Polkam.

Nama paling diperbincangkan: Bahlil Lahadalia. Ketua Umum Golkar itu menjadi Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, tetapi tetap merangkap Menteri ESDM karena Presiden tak melantik pengganti. Ini langka: satu orang memikul hilirisasi dan energi sekaligus.

Wajah baru juga masuk. Muhammad Sarmuji (Menteri Perindustrian), Drajad Hari Wibowo (Wamenko Perekonomian), Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman (Wamen Keuangan), Muhammad Saleh Mustafa (Wamen Pertanian), serta Irwan Meilano (Wamen Kelautan dan Perikanan).

Baca Juga : Calon Tunggal Kapolri: Surpres R57/Pres/2026 Dan Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Hari Ini

Presiden juga melantik Dedy Prasetyo (Kepala Badan Reforma Agraria Nasional), Arianto Wibowo (Wakil Kepala BPKP), dan M Fadil Imran (Wakil Kepala Otorita Badan Pengelola Pantai Utara Jawa).

Mengapa penting? Perombakan ini menentukan arah hilirisasi, transisi energi, industri, pangan, dan proyek strategis. Dua hal perlu dicermati: efektivitas rangkap jabatan Bahlil dan kecepatan pejabat baru mengeksekusi program.

Dampaknya terasa lintas sektor. Dunia usaha menunggu kepastian regulasi hilirisasi dan energi; aparat menanti arah baru Polkam; publik menuntut program cepat terasa. Karena itu, pelantikan ini bukan sekadar seremonial, melainkan peta jalan eksekusi kebijakan hingga akhir periode.

Jika sinergi berjalan, Kabinet Merah Putih bisa lebih gaspol. Jika tidak, rangkap jabatan berpotensi jadi beban.

Viral karena nama besar, posisi strategis, dan teka-teki arah kabinet: apakah ini persiapan tahun ketiga menuju 2029? Belum final, tapi Prabowo jelas sedang menata ulang instrumen kekuasaannya. (FD)